Didik Anak dengan kelemahlembutan

Didiklah anak-anakmu dengan penuh kasih sayang dan perhatian penuh. Jangan pernah membuatnya kecewa, sakit hati sampai terluka hati dan fisiknya. Mereka adalah Amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dan akan dimintai pertanggung jawaban oleh-Nya kelak di hari akhir. Imam Ali ra mengatakan “didiklah anak-anakmu dengan baik karena mereka hidup dikurun yang berbeda dengan kamu”.

Anak diberikan berbagai macam potensi oleh Allah SWT dengan fitrahnya. Rasul bersabda “setiap bayi yang lahir adalah fitrah (memiliki potensi) sehingga tergantung (lingkungan) kepada orang tuanya apakah mau jadi Narani, Majusi, atau Yahudi”. Potensi berupa Gen yang diturunkan oleh orang tuanya harus dikembangkan oleh orangtuanya atau oleh lingkungan, sehingga potensi yang dimiliki anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Namun sebaliknya jika potensi itu tidak dikembangkan oleh orang tua dan lingkungannya, maka tidak anak itu tidak menentu arah kehidupannya.

Tanggung jawab orangtua terhadap anak yang suci itu adalah dengan memberikan berbagai macam rangsangan yang bisa mengembangkan potensi kognitif, afektif dan psikomotriknya.

Kecerdasan anak akan melejit ketika anak sudah mendapatkan berbagai macam pengalaman hidup, sejak mereka lahir terus diberikan pengayaan pengalaman, maka anak itu akan menjadi anak yang penuh dengan wawasan dan pengetahuan yang luar biasa.

Pengasuhan yang penuh dengan kasih sayang dan perhatian sangat dibutuhkan. Dan kunci kesuksesan mendidik anak adalah kasih sayang dan kesabaran dari orang tuanya. Rasulallah saw mencontohkan bagaimana mencurahkan kasih sayang adalah dengan membuat anak selalu happy (menyenangkan) dengan apa yang dialakukannya. Contoh bagaimana Rasulallah saw membiarkan sujudnya lama ketika shalat, karena di pundaknya ada Hasan dan Husain yang sedang duduk. Atau dalam riwayat lain bagaimana Rasulallah selalu menciumi Hasan dan Husain. Dan ada satu riwayat, bahwa Ummu Fadl sedang menggendong anaknya yang masih batita, kemudian datang Rasul dan digendongnya anak tersebut, tiba-tiba pipis di gamisnya Rasul, spontan dengan kasar Ummu Fadl menarik anaknya dari gendongan Rasul sambil minta maaf (karena merasa malu anaknya pipis di gamis Rasul). Maka Rasul berkata, “wahai Ummu Fadl gamis yang kena pipis ini mudah untuk dicuci dan hilang dengan sekejap saja, tapi sakit hatinya anak ini tidak akan mudah hilang, bahkan akan terbawa hingga dia besar”. Demikian halusnya dan lembutnya budi pekerti Rasulallah saw dalam memperlakukan seorang anak.

Kelemah lembutan kita dalam bertutur kata, dalam berinteraksi dengan anak akan menjadi bekal yang positif saat anak kita menjadi besar kelak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: