Tips Menjadikan Anak Penurut

Tips meciptakan Anak ‘Penurut’

 

Jika di rumah anak terlalu banyak dirangsang oleh agresi atau ancaman dan hukuman. Maka, akan terciptalah sifat hiperaktif pada anak laki-laki atau apa yang sekarang didiagnosis sebagai ‘gangguan karena kurang mendapat perhatian’. Sedangkan pada anak perempuan, kecenderungan agresif akan diwujudkan terhadap diri sendiri berupa perasaan kurang harga diri dan gangguan makan (John Gray, P.hd, 2004).

Pada zaman dulu, kebanyakan orangtua mendidik anak dengan cara memberikan ancaman, pukulan, dan hukuman. Tindakan tersebut dilakukan untuk memegang kendali agar anak tetap menurut pada apa yang diperintahkan oleh orangtuanya. Pada saat itu, anak menurut karena takut.

Namun, di zaman sekarang banyak anak telah berubah. Ia akan semakin menolak dan berontak apabila diperlakukan kasar dan diancam oleh orangtuanya. Tetapi, jika anak diperlakukan dengan pola asuh positif. Misalnya, dengan memberikan pengertian, perhatian, dan tidak menyuruh anak dengan ancaman melainkan dengan cara ‘meminta. Maka, iapun akan menjadi anak yang cenderung penurut. Ia mengikuti apa yang diinginkan orangtua atas dasar mengerti dan memahami bukan karena rasa takut pada orangtua.

Contoh kasus, jika orangtua ingin menyuruh anak agar tidak bermain bola di dalam rumah. Maka, cobalah untuk tidak memberikan ancaman kepadanya. Seperti mengatakan ‘awas ya, kalau ade melakukannya lagi nanti mama akan bilangin ke papa. Ade nanti bakal dipukul’.

Tindakan orangtua seperti di atas boleh jadi membuat anak merasa penasaran dengan perkataan yang diucapkan oleh orangtuanya tersebut. Oleh karena itu, anak mungkin bukannya berhenti dari tindakannya. Tetapi, mungkin ia malah akan semakin sengaja melakukan tindakan negatif tersebut sampai ia mendapatkan jawaban dari reaksi orangtua yang sebenarnya. Yaitu, apakah hanya menakut-nakuti atau memang benar-benar mereka akan memukulnya.

Menyikapi tindakan anak seperti di atas, orangtua sebaiknya melakukan pendekatan positif. Misalnya, mengganti kalimat mengancam di atas dengan kalimat meminta. Contohnya, ‘mau kan ade berhenti bermain bola di dalam rumah? Atau ‘biar lebih asyik, ayo kita bermain bola dengan mama di halaman rumah sekarang!’.

Beberapa hal yang juga penting dilakukan orangtua ketika sedang mengajarkan anak tentang mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak. Adalah, selain perlu dilakukan secara berulang-ulang dengan penuh kesabaran juga orangtuapun harus berusaha mengganti setiap kalimat yang bernada mengancam dengan kalimat ‘meminta’. Sehingga, dengan demikian secara perlahan kepakaan anakpun untuk dapat membedakan hal yang baik dan tidak akan semakin terasah, anak akan cenderung menjadi ’penurut’. Anak akan ‘menurut’ tetapi bukan karena takut. Melainkan karena ia ‘mengerti’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: