Archive for the Pendidikan dan Perkembangan AUD Category

Karakter Anak

Posted in Pendidikan dan Perkembangan AUD on 26 Desember 2008 by dadan suryana

Ragam Sifat Anak & Cara Mengarahkannya

Anak memiliki bibit sifat yang sangat beragam. Jika tidak diarahkan secara tepat, bisa saja bibit yang mendasar itu berubah menjadi sifat negatif, seperti; pemalas, egois, atau pendendam.

Mengenali lebih dulu bibit sifat itu, memberi Anda peluang untuk mengarahkan anak mengembangkan diri ke arah yang lebih positif.

-

Sikap anak: Egois
Hal utama yang terlihat dari seorang anak egois adalah sikap keras kepala. Biasanya, orang tua cepat kehilangan kesabaran saat menghadapi anak seperti ini. Si anak cenderung ingin menang sendiri, tidak mau mendengarkan orang lain dan harus dituruti keinginannya. Bila tidak, biasanya anak akan mengeluarkan berbagai jurus ancaman, seperti mogok makan, atau menangis berguling-guling di lantai.

Penanganan orang tua: Jangan panik saat si kecil berulah, dan Anda tak perlu marah. Hadapi anak secara sabar. Hal terpenting yang ingin didapatkan oleh anak seperti ini, adalah perhatian. Jadi saat ia berulah, pastikan saja ia mengerti bahwa Anda sedang memperhatikannya.
-

Sifat anak: Perajuk
Ciri anak perajuk adalah cepat ngambek dan cenderung cengeng. Hampir mirip seperti anak egois, hanya saja anak perajuk tidak menunjukkan sikap keras kepala. Hal ini disebabkan karena anak merasa tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari orang tua.

Penanganan orang tua: Sama seperti menghadapi anak egois, modal untuk menghadapi anak perajuk adalah kesabaran. Perhatian dan bujukan Anda akan membuat anak merasa nyaman dan menjadi tenang. Jangan mengendalikan anak dengan kekerasan, karena hal tersebut berdampak negatif pada perkembangannya.
-

Sifat anak: Pemalas
Ciri anak bersifat pemalas adalah enggan melakukan kewajibannya. Anak cenderung mengandalkan orang lain untuk memenuhi berbagai kebutuhannya.

Penanganan orang tua: Jika anak Anda memperlihatkan gelagat seperti ini, langkah yang paling jitu untuk mengatasinya adalah memberikan contoh sekaligus pengertian seacra konsisten. Berikan tanggung jawab pada anak sejak dini, paling tidak yang berhubungan dengan dirinya sendiri, seperti; merapikan mainannya atau meletakkan baju kotornya ke tempat yang telah ditentukan.

Gangguan perkembangan bahasa dan bicara dan menanganinya pada Pure Dysphatic Development

Posted in Pendidikan dan Perkembangan AUD on 26 Desember 2008 by dadan suryana

Gangguan perkembangan bahasa dan bicara dan menanganinya pada
Pure Dysphatic Development

Sebagian besar anggota milis Anakberbakat (milis yang sudah mencapai usia 5 tahun ini) mempunyai anak dengan gangguan perkembangan bahasa dan bicara. Kebanyakan dari anak-anak ini saat berusia satu tahun sudah mulai berbicara dan bernyanyi, dengan intonasi yang baik, dan diantaranya juga dengan pengucapan yang benar. Namun perkembangan ini tidak berlanjut membangun kalimat. Sekalipun ia mempunyai daftar vocabulary yang banyak tetapi tidak membentuk kalimat, sehingga sifatnya ia hanya berbahasa pasif saja. Umumnya kemerosotan perkembangan bahasa dan bicaranya dimulai pada usia satu setengah tahun, yang berlanjut menjadi berbahasa planet. Di usianya yang ke tiga, kata-katanya mulai terdengar lagi. Dengan stimulasi yang baik oleh ibunya, dalam waktu singkat ia mulai aktif membentuk kalimat dan bernyanyi hingga belasan bahkan puluhan lagu. Di usianya yang kelima kebanyakan dari mereka sudah bisa berkomunikasi dengan baik secara dua arah. Namun masih mempunyai masalah berbahasa dalam pelajaran di sekolah, disamping masalah sosial akibat kekurang trampilan berbahasa.
Sebagian lagi memang mengalami keterlambatan bicara, mulai bicara diusianya yang ke 1,5 tahun atau 2 tahun, untuk kemudian selanjutnya mengalami perkembangan bicara yang baik.
Dalam tulisan ini saya hanya ingin mencoba membahas suatu kajian yang sedikit banyak cocok dengan kelompok anak-anak yang mempunyai perkembangan berbicara sudah dimulai di usianya sekitar umur satu tahun namun kemudian perkembangan itu merosot, tidak berkembang lebih lanjut, untuk kemudian baru akan mulai lagi di usianya sekitar tiga tahun. Mempunyai kemampuan reseptif yang baik, namun mempunyai kelemahan dalam berekspresi menggunakan kata-kata dan kalimat, sangat baik berbahasa non-verbal, dan mempunyai perkembangan kognitif yang sangat baik. Maksud dari ini semua adalah untuk memenuhi upaya pencarian cara pengasuhan, bimbingan, stimulasi dan metoda pendidikan yang pas untuk setiap anak yang kita hadapi, memanfaatkan faktor kuat yang dimilikinya, untuk mencoba menstimulasi dan memperbaiki kesulitannya.
1
Perkembangan emosi saat bayi, diceritakan oleh para orang tua bahwa anak-anak ini mempunyai perkembangan emosi yang sangat baik, yaitu senang tertawa dan bercanda-canda, bahkan sangat hangat dalam relasi ibu-anak. Saat balitanya sekalipun berbahasa planet (yang menjadi salah satu keluhan utama orang tuanya) namun humornya banyak, dan mereka adalah anak-anak yang periang, spontan dan menyenangkan. Anak-anak ini pada umumnya adalah anak-anak yang mempunyai kemampuan visual yang sangat kuat, yang kemudian kita gunakan istilah visual spatial learner dengan mengambil istilah dari Linda Kregger Silverman. Namun banyak dokter yang heran dengan perkembangannya, mengapa anak-anak ini mempunyai emosi yang baik, mempunyai mimik yang baik tetapi perilakuannya seperti autisme, dan impulsive serta mempunyai masalah seperti ADHD. Hal ini karena dokter (dan berpegang pada DSM IV) tidak membedakan perilaku yang dianggapnya repetitive dan terfiksasi itu dengan perilaku anak gifted yang melakukan trial and error (pada autisme perilaku repetitive adalah perilaku berulang-ulang yang tidak mempunyai tujuan). Atau karena ada dua gejala yang menonjol, yaitu terlambat berbicara (gangguan berkomunikasi) dan mengalami kesulitan bersosialisasi tanpa lagi membedakan bentuk gangguan berbahasa dan bicara tersebut dengan gangguan yang dimiliki oleh autisme. Masalah konsentrasi pada anak-anak ini tidak dibedakan lagi antara anak yang sulit memprioritaskan konsentrasi sebagaimana anak-anak gifted dengan anak penyandang ADHD (pada ADHD tidak bisa berkonsentrasi di berbagai setting, anak gifted akan intens berkonsentrasi pada permainan yang diminatinya).
Alasan orang tua menjadi frustrasi menghadapinya adalah, karena anak-anak ini terlalu banyak bergerak, tidak mau mendengarkan jika diberi tahu, sangat eksploratif (nggratak kesana kemari), tidak bisa menyampaikan keinginan dalam bentuk verbal yang menyebabkan anak frustrasi berakhir dengan keadaan temper tantrum. Keras kepala dan kemauan yang sangat besar sulit dibelokkan menyebabkan orang tua frustrasi. Banyak diantara keluarga ini yang akhirnya menghindari pertemuan dan jalan-jalan ke restoran atau ke tempat tempat rekreasi dan pusat perbelanajaan, karena selain anak selalu menggratak kesana kemari, dan ditakutkan hilang tersasar karena selalu berlari kesana kemari.
Alasan utama mencari bantuan umumnya karena anaknya mengalami kesulitan dalam perkembangan berbahasa dan bicara, mempunyai cara bermain yang berbeda dengan anak-anak lain, dan tidak bisa berteman dengan sebayanya. Mereka mendapatkan diagnosa di usianya yang ke 2 – 3 tahun: autism spectrum disorder, autisme ringan, gejala autism, hampir autisme, seperti autisme, multicomplex development disorder, gangguan perkembangan tetapi bukan autisme, gangguan konsentrasi ADHD, terlambat bicara, brain injury,
2
keterbelakangan mental, dan mendapatkan diagnosa perkembangan dysphasia atau terlambat bicara. Menghubungi mailinglist Anakberbakat dengan alasan mencari teman senasib dan mencari info-info pengasuhan dan pendidikan, yang mutahir.
Banyak diantara anak-anak ini mendapatkan advis dari dokter untuk dilakukan tes Bera untuk melihat fungsi pendengaran dengan kesimpulan fungsi pendengaran sangat baik. Mendapatkan saran dilakukan pencitraan otak CT Scan dan MRI, namun tidak ditemukan kelainan apa-apa.
Treatment yang diterima sangat beragam, mulai dari terapi wicara, sensory integrasi (bermain, berkuda, hiking, berenang) namun disarankan tidak mengikuti sekolah dan juga tidak mengikuti terapi wicara (dengan alasan dengan melakukan terapi sensori maka perkembangan wicara akan dengan sendiri berkembang), okupasi, ABA, terapi diet bebas casein dan gluten, biomedical treatment, psikotropika (Ritalin, Concerta, Respiridon/risperdal), dan berbagai vitamin dosis tinggi. Pada dasarnya treatmentnya seringkali diserahkan kepada orang tua, dan orang tua berupaya mencari kesana kemari dengan model yang sangat beragam.
Dalam kelompok diskusi ini, kami, sebagai orang tua antara lain mencoba melakukan stimulasi bahasa dan bicara, namun mengalami kesulitan karena kondisi gangguan perkembangan bicara itu tidak diperjelas secara detil, sehingga para orang tua kesulitan mencari model yang pas dalam upaya menstimualsinya. Dalam upaya mencari bantuan terapi wicara ke pusat-pusat terapi wicara, orang tua tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan bagaimana dan apa bentuk gangguan perkembangan bahasa dan bicara tersebut. Diagnosa yang diterima juga terlalu global, misalnya saja diagnosa autisme, namun gangguan komunikasi tidak diperjelas lebih mendalam. Atau diagnosa ADHD misalnya, namun anak-anak ini ternyata juga mengalami gangguan perkembangan berbahasa dan bicara yang seringkali tidak diberi pesan agar memperhatikan perkembangan bahasa dan bicaranya tersebut. Atau misalnya, dengan penjelasan bahwa si anak mengalami keterlambatan bicara yang memerlukan stimulasi, namun bagaimana bentuk dan cara stimulasi itu, tidak diperjelas lebih lanjut.
Terapi yang didapatkan seringkali lebih ditujukan pada integrasi sensorik, latihan motorik yang tidak ada hubungannya langsung dengan bahasa dan bicara, serta terapi wicara untuk autisme. Umumnya pula, orang tua dan terapis tidak memungkinkan adanya kesempatan membangun kerjasama, dan terapi dilakukan hanya berdua antara terapis dan anak, orang tua dilarang menemani atau melihat.
3
Dengan banyak berdiskusi dan pencarian bacaan yang tak pernah berhenti, maka sampailah kami pada pembahasan Pure Dysphatic Development.
Pembahasan ini dimaksudkan dan diperuntukkan bagi kelompok kami Anakberbakat groups untuk lebih memperluas wawasan, memperkaya pengetahuan, sekaligus mencari bentuk-bentuk stimulasi yang cocok bagi anak-anak kami sesuai dengan kondisi masing-masing.
Pure Dysphatic Development, apakah itu?
Pure Dysphatic development sebenarnya bukanlah suatu diagnosa, tetapi terminologi yang digunakan bagi sekumpulan gejala atau syndrom dari bentuk speech and language disorder yang nampak secara klinis beberapa saat dalam suatu perkembangan seorang anak sehingga perkembangan itu terlihat tidak normal. Maksudnya bahwa gejala-gejala yang ditampilkan itu tidak akan terdapat pada seorang anak yang normal. Dikatakan bukan diagnosa, karena gangguan perkembangan berbahasa dan bicara adalah suatu gejala ikutan dari suatu kondisi lain yang menjadi diagnosanya.
Pure Dysphatic Development juga berbeda dengan term dysphasia, sekalipun istilah dysphatic diambil dari dysphasia juga. Dysphasia sendiri diambil dari istilah aphasia. Aphasia adalah keadaan dimana seseorang mengalami gangguan kehilangan kemampuan bicara yang disebabkan karena traumatic brain injury atau cerebral palsy akibat kecelakaan, tumor, dan pendarahan otak. Dysphasia adalah bentuk ringan dari aphasia. Namun aphasia/dysphasia adalah kondisi yang patologis yang disebabkan karena adanya brain injury, sedang dalam dysphatic development tidak ditemui adanya kondisi yang patologis pada otak yang disebabkan karena brain injury. Kondisi dysphatic disebabkan perkembangan neurologis yang tidak seperti biasanya, lebih kearah karena genetik, karena itu digunakan istilah pure dysphatic development (Nyiokiktjien,1989) seperti yang di jelaskan di bawah ini:
The timely treatment of children with developmental dysphasia is important in the prevention of subsequent learning and behaviour disorders. The pathophysiology of developmental dysphasia is complex and depends on age. In the preverbal and early verbal phase the severity of the clinical picture is determined by accompanying motor function pathology (simple motor function, dysarthria, general and oral dyspraxia) and by receptive pathology (hearing, and auditory perception). In the verbal period linguistic problems become more prominent (syntax, morphology, semantics and verbal memory), these problems might be accompanied by oral motor symptoms. The different developmental language syndromes become more apparent with time. After kindergarten age the oral motor and perceptual problems diminish, but the language disorders,
4
that influence communication and scholastic learning, remain. In a small number of children without oral motor, perceptual and memory problems, there exists a ‘bare or nuclear syndrome’, a so called ‘pure dysphasia’, without other neurological signs. In these children there is perhaps a genetically determined developmental disorder on a restricted neuronal level (no brain damage!). In more than half of the patients this syndrome is accompanied by other neurological signs, predominantly pointing to the left cerebral hemisphere. Furthermore there can be signs from the right cerebral hemisphere, the corpus callosum and from the afferent fibers systems for auditory perception. The nature and causes of these disorders are extremely variable, so that one cannot speak of the neural substrate or the pathogenesis. The diagnosis and the treatment can optimally only be performed by an experienced team, the expertise of which has to penetrate into the school education system..
Dalam buku Dysfatische Ontwikkeling, theory– diagnostiek – behandeling (2005), Njiokiktjien lebih menjelaskan lagi apa yang dimaksud dengan disfatische ontwikkeling atau dysphatic development. Menurutnya pure dysphatic development sebagai core dari permasaahan, bisa mengalami komorbiditas dengan bentuk bentuk gangguan perkembangan bahasa dan bicara lainnya, misalnya pada autisme dan anak-anak yang mempunyai inteligensia rendah dimana saat masa preverbal mengalami gangguan perkembangan kemampuan fonologis, oral motor∗ dan reseptif sehingga menyebabkan gangguan yang lebih parah, begitu juga kelaknya saat masa verbal yang pada akhirnya menyebabkan gangguan pada gramatika (syntak), gangguan pengertian bahasa (semantik), dan gangguan penggunaan bahasa (pragmatik). Namun anak-anak yang murni mengalami dysphatic development ini saat masa preverbal tidak mengalami gangguan fonologis, oral motor, maupun gangguan reseptif, hanya mengalami kesulitan ekspresif, dan sangat mampu berbahasa simbolik. Ia juga tidak mengalami keterlambatan (delay speech), artinya perkembangan bahasanya sesuai jadwal, namun selanjutnya mengalami perlambatan perkembangan. Saat fase verbal, anak-anak ini mengalami kesulitan words finding dari daftar kata-kata yang ada dalam daftar memorinya, karenanya ia mengalami gangguan seperti anak gagap dan mengalami ketidak lancaran bicara. Dalam sesi tanya jawab ia juga mengalami kesulitan. Pada anak-anak ini dalam masa perkembangannya juga didapatkan komplikasi dyspraxia** (berbahasa planet) akibat ketidak harmonisan oral motor. Namun menurutnya, bentuk disphatic seperti ini mempunyai prognosis yang sangat baik, dan tidak
∗ Gangguan oral motor pada bayi dan anak dapat terlihat dari keadaan dimana bayi atau anak mempunyai tonus otot sekitar mulut yang lemah yang menyebabkan liur selalu mengalir, mengeluarkan gelembung-gelembung ludah, dan kesulitan mengunyah dan menelan.
** Dyspraxia adalah gangguan berbahasa dan bicara yang disebabkan karena gangguan pada oral motor. Namun bentuk dyspraxia pada anak-anak dysphtaic ini bukan disebabkan karena gangguan oral motor tersebut, namun gangguannya lebih kepada gangguan neurologik berada di otak (pre motor area), di bagian yang mengatur gerakan oral motor.
5
pernah terjadi pada anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan autisme. Karena itu dalam penegakan diagnosa gangguan perkembangan bahasa harus benar-benar dilakukan secara hati-hati dengan cara memberikan differential diagnosis (diagnosa pembanding) yang rinci. Karena disamping anak-anak ini memang mempunyai prognosa yang baik, tidak terdapat adanya tanda-tanda patologis di bagian otak, juga agar kelompok anak yang mengalami komorbiditas gangguan lainnya itu dapat lebih ditangani secara maksimal dan tidak dianggap mempunyai gejala dan prognosa sebagaimana pure dysphatic development.
Istilah dysphatic development ini digunakan oleh kelompok psikiater dan neurolog yang tergabung dalam Dysfatisch Instituut Amsterdam antara lain Dr Xavier Tan (psikiater anak) dan Dr Charles Njiokiktjien (psikiater dan neurolog anak Vrij Universiteit Amsterdam) karena tidak puas dengan istilah dari kelompok speech and language pathology yang menggunakan istilah Spesific language impairment. Dokter atau psikiater dan neurolog secara umum menggunakan istilah Dysphasia development yang kriteria gangguannya mengacu pada DSM IV. Istilah Spesific language impairment (SLI) digunakan secara umum oleh speech patolog dan tidak mempersoalkan apakah gangguan bahasa dan bicara itu disebabkan karena kondisi yang patologis atau tidak, karena genetik atau karena traumatic injury∗. Kini istilah pure dysphatic development yang dalam bahasa Belanda digunakan puur dysfatische ontwikkeling dalam praktek dokter di Belanda sudah banyak digunakan.
Pembagiannya dapat dilihat di bawah ini kelompok mana yang dimaksud merupakan murni dysphasia development.
Klasifikasi communication and language disorder pada anak
A. Developmental language disorders (ganguan perkembangan berbahasa)
1. Hanya mengalami gangguan ekspresif dengan pemahaman normal dengan sedikit atau tanpa komorbiditas – gangguan lain yang menyertainya (pure dysphasia development atau expressive language disorder menurut DSM IV)
2. Gangguan campuran antara perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif (mixed receptive-expressive language disorder DSM IV). Seringkali terjadi adanya deskrepansi (perbedaan) yang bermakna antara skor tes verbal IQ dengan performal (non-verbal) IQ, dimana skor verbal IQ mencapai skor yang sangat rendah. Atau non-verbal IQ mencapai skor
∗ Penjelasan tentang Spesific Language Disorder (SLI) dapat dibaca di berbagai buku tentang speech patology.
6
lebih tinggi daripada tes pemahaman bahasa. Pemahaman bahasa lebih rendah daripada rata-rata anak seusianya, artinya ada gangguan perkembangan bahasa reseptif (receptive dysphasia).
1 dan 2 di atas dapat terjadi pada anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara.
B. Gangguan bahasa reseptif: diluar definisi dysphasia development, karena pemahaman bahasa lebih jelek daripada bahasa ekspresif.
1. Kemampuan reseptif dan ekspresif sangat rendah (delay atau tertinggal); seringkali diikuti dengan gangguan nonverbal (mengalami juga keterbelakangan mental). Dalam bentuk yang parah didapatkan asymbolic mental retardation atau “mute autistic”. Pemahaman bahasa dan bicara sama sekali tak nampak.
2. Verbal-auditory agnosia atau congenital word deafness (bentuk ringan dari phonologic perception problem)
3. Cortical deafness, total auditory agnosia (congenital auditory imperception).
4. Gangguan sensorik pendengaran yang parah.
C. Gangguan semantik-pragmatik
Gangguan bahasa Semantik (pengertian) – pragmatik (penggunaan) sering dimulai dengan bahasa dengan echolalia yang banyak.
D. Gangguan kelancaran bicara, atau gagap.
E. Mutisme selektif (tidak mau bicara dalam situasi atau tempat tertentu)
F. Miskin bahasa karena kurang stimulasi
G. Gangguan artikulasi dan gangguan perkembangan bahasa dan bicara, sering disebabkan karena masalah seperti dalam pembangian 1 & 2
Gangguan perkembangan bicara dan bahasa karena sebab-sebab lain:
1. Child-afasia (disebabkan karena traumatic, tumor, infeksi)
2. Landau-Kleffner-syndrom (gejala mirip pada pembangian B)
3. Kemunduran perkembangan bahasa dan bicara dengan penyebab tak diketahui dengan atau tanpa epilepsi saat tidur dan gangguan nosologi yang tak diketahui penyebabnya, sering juga terjadi pada Autisme Spectrum Disorder (ASD).
Sumber: C.Njiokiktjen (psikiater & neurolog anak) dalam artikel: De Relatie tussen taalontwikkelings-stoornissen en autisme, Wettenschaplijk Tijdschrift Autisme, nummer 2, augustus 2005.
7
Perhatian terhadap kelompok anak yang mengalami dysphatic development ini telah disadari oleh kelompok psikiater dan neurolog yang tergabung dalam Dysfatisch Instituut Amsterdam sejak beberapa tahun terakhir ini, karena terlihat meningkatnya jumlah anak yang mengalami perlambatan bicara (pada pure dysphatic development) yang memerlukan perhatian ekstra dan bimbingan. Namun penelitiannya hingga kini dirasa masih sangat minim, karena umumnya tidak mendapat perhatian sebab prognosanya memang baik. Sehingga oleh para dokter anak tidak diberi tindakan lebih lanjut, begitu juga saat di sekolah. Namun dengan semakin teliti dan perhatian terhadap tumbuh kembang anak yang lebih besar, kini kelompok anak-anak ini menjadi lebih terlihat, dan seringkali justru terdampar di berbagai diagnosa psikiatri serta masuk ke sekolah-sekolah luar biasa. Itulah sebabnya beberapa dokter, psikolog, speech patolog, dan berbagai profesi lainnya yang mempunyai kaitan dengan perkembangan bahasa dan bicara anak-anak di Belanda mengkhususkan diri dalam kelompok dysphatic development dengan membangun sebuah institute yang diberi nama Dysfatische Instituut Amsterdam dan bekerja selain melakukan berbagai penelitian, pelayanan, dan juga informasi.
Gejala klinis yang nampak akan berbeda-beda tergantung dari usia anak tersebut. Xavier Tan dkk dalam bukunya yang ditulis bersama dengan kolega lainnya antara lain dengan Njiokiktjien: Dysfatisch ontwikkeling (2005), menjelaskan definisi dari Dysptahtic Development:
Dysphatic development adalah gangguan berbahasa dan bicara akibat dari gangguan perkembangan neurologik. Ia bukan penyakit, tetapi sebuah dimensi gangguan perkembangan, dalam bentuk sekumpulan gejala dan dapat diikuti dengan gejala ikutan lainnya.
Gejala-gejala utama itu (sebagai core dari gejala pure dysphatic development)∗ adalah sebagai berikut:
– pemahaman bahasa mempunyai tingkatan yang lebih tinggi daripada produksi bahasa;
– komunikasi dialog akan lebih sulit daripada berbicara spontan, sebab komunikasi dialog berada di bawah situasi perintah;
– terganggunya kelancaran bicara terutama yang menyangkut words finding, dan kesulitan untuk menyatukan berbagai elemen dalam sebuah cerita;
– mengalami kesulitan membangun kalimat dan bentuk kata-kata.
Dijelaskan juga bahwa kelompok anak-anak ini mempunyai inteligensia yang baik, namun terdapat perbedaan atau deskrepansi profil IQ, dimana verbal IQ
∗ Dalam pembahasan audiology anak-anak dengan gejala seperti ini, disebut Centrum Auditory Processing Disorder (CAPD). Ia mengalami keterlambatan bahasa dan bicara namun mempunyai pendengaran yang baik. 8
lebih rendah dari performance IQ v/P. (catatan: banyak laporan pula anak-anak ini saat lebih besar mempunyai verbal IQ yang lebih tinggi dari performance IQ).
Iatilah dysphatic, dalam bahasa Belanda digunakan istilah “dysfatisch” pertama kali digunakan oleh van Uden di tahun 1960. Ia bekerja di sebuah institut untuk anak-anak bisu dan tuli. Seringkali van Uden mendapatkan anak-anak yang mempunyai pendengaran buruk, tetapi juga ada anak-anak yang baik pendemgarannya tetapi tidak bisa berbicara. Anak-anak ini mempunyai perkembangan inteligensia yang baik, tetapi juga diikuti dengan (verbal) dyspraxia (secara awam para orang tua dalam kelompok milis Anakberbakat@yahoogroups.com sering menyebutnya berbahasa planet, yaitu berbagai bunyian yang keluar dari mulut anak-anak kita, dan tidak bisa kita mengerti secara jelas). Perkembangan selanjutnya anak-anak ini mempunyai perkembangan memori visual yang sangat kuat. Dari sini van Uden memperkenalkan apa yang disebutnya dengan istilah: dysfatisch-dyspractisch profiel.
Van Uden membangun suatu metoda yang memanfaatkan kekuatan memori visual guna mengatasi kelemahan kemampuan auditifnya. Kalimat-kalimat diajarkan secara global dengan metoda apa yang disebutnya sebagai “komunikasi grafik”. Sebuah komunikasi dilakukan dengan balon-balon yang bisa bicara. Pada dasarnya bahasa merupakan titik sentral, namun sedikit demi sedikit mendekatkan pada analisa misalnya lebih memperjelas struktur kata-kata, melakukan dikte secara visual, atau dengan menggunakan kartu-kartu bergambar, dan alphabet.
Penerus van Uden, T Jansen (1979) lebih menghususkan diri pada anak-anak yang bisa mendengar dengan komplikasi dyspraxia. Prinsip terapinya adalah bimbingan multidisiplin. Sedang Söderbergh (1981) dari Swedia menggunakan prinsip dari van Uden . Metoda Södenbergh dilanjutkan oleh Xavier Tan menjadi Södenbergh-Tan tahun 1992 yang juga mengambil ide dari T Jansen, yaitu menggunakan metoda global-visual. Prinsipnya, dengan metoda visual misalnya membaca, melihat gambar, bermain yang visual, bernyanyi, bergerak, untuk membawa dan mendorong anak agar mampu berbicara.
Tinjuan Neurologis Xavier Tan
Untuk menjelaskan bagaimana terjadinya fenomena dimana anak-anak ini mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara, Xavier Tan dalam
9
bukunya Disfatische Ontwikkeling menjelaskan tentang sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Dennis Molfese seorang neuropsychologist Amerika, tahun 1972. Ia melakukan eksperimen melihat gelombang otak yang terjadi pada bayi. Caranya adalah bayi diberi stimulai berbagai bunyian, seperti kata-kata, musik, dan suara gaduh, yang kemudian diukur dengan menggunakan alat pengukur gelombang. Eksperimen ini bernama AERP (Auditory Event Related Evoked Potensial). Hasilnya memperlihatkan bahwa pada anak bayi, reaksi akan terjadi di bagian otak sebelah kanan, yaitu jika ia diberi bunyian berupa bunyian musik dan suara gaduh.
Artinya menurut Xavier Tan lagi, bahwa perkembangan otak saat bayi memang tidak simetris. Kelak secara perlahan-lahan otak sebelah kiri juga akan berkembang, dimana otak sebelah kiri ini mempunyai fungsi kerja yang berkaitan dengan kata-kata atau auditory. Sedang otak kanan tadi mempunyai fungsi kerja yang berkaitan dengan visual atau penglihatan. Artinya saat anak-anak ini masih sangat muda, mereka lebih didominasi oleh otak sebelah kanan yang lebih bekerja pada fungsi visual dan suara-suara musik. Kondisi asymetris ini bisa mencapai minggu ke 29 usia bayi. Kelak saat di usia sekitar 6 tahun dominasi otak akan berubah dari sebelah kanan ke kiri, sehingga anak akan lebih menguasai bicara dengan kemampuan auditory yang diatur oleh otak kiri. Di usia 10 tahun pergerakan ini akan berakhir. Dan masa krisis berakhir.
Dengan berpatokan hal ini, Xavier Tan melihat hubungan perkembangan otak anak dengan perkembangan berbahasa dan bicara. Ia menyebut perubahan-perubahan di otak itu dengan sebutan: konsep metamorphose. Terapi yang diberikan perlu melihat berbagai gejala yang ditampilkan sebagai implikasi dari perkembangan otak. Dalam hal ini Xavier Tan membagi cara-cara stimulasi tergantung dari usia dan perkembangan anak.
Diakui pula oleh Xavier Tan & Nyiokiktjien bahwa karena terapi yang diberikan bukanlah dalam suatu bentuk program training, tetapi dalam bentuk menstimulasi dan mendukung proses perkembangan, agar perkembangan bisa lebih mencapai tingkatan yang lebih baik, dimana perkembangan setiap anak mempunyai keistimewaan masing-masing, maka kesulitan dari bentuk terapi seperti ini tidak bisa diukur melalui alat ukur objektif (kuantitatif). Setiap anak akan berada dalam tingkatan perkembangan masing-masing yang satu dengan lainnya sulit dibandingkan.
Di akhir program, evaluasi lebih bersifat kualitatif daripada pengukuran dalam bentuk kuantatif, yaitu:
– apakah sesi yang diberikan menyenangkan?
– Tes untuk melihat kemajuan perkembangan berbahasa lebih dinilai secara terintegrasi dengan berbagai perkembangan lainnya (kognitif, sosial, emosi, pembelajaran dlsb);
– Bagaimana perkembangan rasa percaya diri, dan bagaimana kenyamanan berbincang-bincang 10
– Apakah komunikasi berlangsung lebih mudah, kata-kata yang diucapkan lebih mudah (ada otomatisasi bicara)
– Apakah lebih dimengerti oleh teman bercakap cakap
Differential Diagnosis
Untuk membedakan antara anak yang mengalami berbagai gangguan bahasa dan bicara menurut Njiokiktjien bisa dilihat dalam tabel pembagian gangguan perkembangan bahasa dan bicara di atas. Dalam hal pure dysphatic development, Njiokiktjien menjelaskan bahwa bentuk ini adalah suatu bentuk gangguan perkembangan berbahasa dan bicara yang tidak diikuti dengan masalah motorik (oral motor) dan juga tidak diikuti dengan gangguan pada kemampuan berbahasa non-verbal (bahasa mimik/simbolik) yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan sosial. Sekalipun kadang juga ditemukan adanya gangguan artikulasi, terutama pada anak yang masih kecil. Mereka mempunyai pemahaman bahasa yang normal bahkan tinggi. Dalam berbagai penelitian menunjukkan anak-anak ini tidak ditemukan cacat neurologik. Sebetulnya bentuk dysphatic seperti ini bukanlah hal yang langka. Kemungkinan besar selama ini anak-anak ini tidak terlalu mendapat perhatian dari dokter, karena prognosanya memang jauh lebih baik daripada anak-anak lain yang mengalami dysphatic development namun mengalami komorbiditas dengan gangguan lainnya yang lebih parah. Setelah melalui stimulasi dari terapis wicara umumnya hasilnya sangat memuaskan. Karena itu seringkali terjadi anak-anak ini tidak dikonsulkan lebih lanjut ke dokter lain, karena memang tidak darurat. Anak-anak yang mengalami pure dysphatic development yang cerdas umumnya mempunyai kemampuan reseptif yang normal atau lebih tinggi dari anak-anak sebayanya, dan kelak expresifnya juga akan mengalami kemajuan melebihi rata-rata teman sebayanya. Karena itulah pada anak-anak ini seringkali bukan hal yang darurat untuk melakukan tindak lanjut penanganan dan terapi, padahal sebetulnya tidak benar, karena dengan begitu anak-anak ini tidak dapat mengaktualisasikan potensinya secara maksimal.∗ Sekalipun belum tentu akan terjadi, namun anak-anak ini juga dapat mengalami komplikasi dysleksia akibat tumbuh kembangnya yang khusus ini. Dalam keadaan seperti
∗ Saat duduk di sekolah dasar, anak-anak ini karena mempunyai gaya berfikir (cognitive style) yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya yaitu cara berfikirnya yang gestalt (simultan), ia membutuhkan metoda tersendiri. Disamping itu, sekalipun sudah mampu membaca dan berbicara dengan baik, seringkali karena gaya berfikirnya yang gestalt ia kesulitan dalam memahami bacaan, kesulitan menggunakan bahasa yang umum, maka anak-anak ini seringkali disangka anak-anak yang mengalami disleksia (gangguan belajar kesulitan membaca). 11
ini, menurut Xavier Tan dan Njiokiktjien lagi, penanganan dysleksianya juga membutuhkan pendekatan khusus yang sesuai dengan bentuk perkembangannya.
Prinsip Penanganan
Xavier Tan menjelaskan bahwa untuk menangani anak-anak ini kita bukan menggunakan program training namun dengan melakukan pendekatan semua aspek tumbuh kembang seorang anak yang dari satu anak ke anak lain dari hari ke hari juga berbeda. Disamping itu kita juga perlu menggunakan konsep metamorphose perkembangan otak anak. Setelah usia tiga tahun∗∗
∗∗ Di usia tiga tahun anak-anak mulai bisa bekerjasama dan bermain bersama di dalam grup.
12
dilakukan penanganan dalam kelompok yaitu di sekolah dengan bekerjasama antara guru dan orang tua, yang penanganannya dilakukan secara simultan dengan berbagai aspek tumbuh kembangnya. Kecuali jika si anak mempunyai komorbiditas dengan gangguan lain yang memerlukan bimbingan individual, dan atau yang mempunyai kontra indikasi penanganan dalam bentuk kelompok. Namun pada pure dysphatic development dimana anak mempunyai kemampuan reseptif baik, mampu bersosialiasi dan tidak ada gangguan berbahasa simbolik, anak-anak ini memerlukan situasi sosial yang baik, yaitu berkembang dalam kelompok anak sebayanya.
Konsep perkembangan berbahasa dan bicara
Fase preverbal
Konsep perkembangan berbahasa dan bicara yang perlu dipegang adalah tetap memperhatikan konsep metamorphose. Perkembangan fase preverbal pada dasarnya diatur oleh belahan otak kanan, yang berarti bahwa bentuk perkembangan bahasa dan bicara merupakan bentuk visual-global, serta pencanderaan multisensori. Kata pertama yang diucapkan oleh anak, bukan hanya multisensori namun juga mempunyai konotasi afeksi (kontak sosial emosional). Perkembangan fase awal yang jelas pada anak yang masih sangat muda, merupakan proses senso-motoris∗ akibat adanya hubungan interaksi dengan ibu dan ayahnya yang selalu bersama dan berbicara padanya. Dengan berjalannya waktu kata-kata dan kalimat yang diucapkan akan menjadi bentuk yang bisa dipahaminya sebagai hasil dari abstraksinya, dengan sendirinya kelak akan lepas dari konotasi afeksi tadi. Pergeseran aktivitas otak dari kanan ke kiri juga akan lebih menghasilkan suatu perkembangan kognitif dalam bentuk kemampuan analitik yang lebih diatur oleh belahan otak kiri. Dengan adanya pergeseran ini maka anak akan lebih mampu membuat kalimat. Kemudian perkembangan morfologis (bentuk kata dan kalimat) dan syntaxis (gramatika) akan tergantung dari kematangan perkembangan belahan otak kiri. Sedang perkembangan belahan otak kanan akan tetap aktif antara lain dalam rangka untuk mengatur aspek prosodi (ritme, melodi dan intonasi) saat bicara dan juga berbahasa yang kurang formal seperti misalnya puisi.
∗ Piaget menamakan kognitif pada bayi (0-2 tahun) dengan istilah sensomotoris, hal ini karena perkembangan kognitif ini mempunyai kaitan dengan penerimaan dan pemrosesan informasi yang diterima melalui organ sensoris atau indera. Pada tahap berikutnya, usia 2-7 tahun oleh Piaget disebut stadia pra-operasional, yaitu dimana anak mulai belajar menggunakan bahasa untuk menunjukkan suatu objek melalui imej dan kata-kata. Baru pada usia 7-11 tahun seorang anak bisa secara konkrit berfikir secara logikal tentang objek dan kejadian. Di usia 11 tahun ke atas, Piaget menjelaskan bahwa di usia itulah seorang anak baru bisa berfikir dalam bentuk abstrak dan hipotetik. Perkembangan bahasa dan bicara, bisa dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase preverbal (0-1 tahun), fase verbal awal (1 – 2,5 tahun), dan fase diferensiasi (2,5 – 5 tahun). Anak-anak belajar untuk bicara melalui tahap mengerti (bahasa pasif) dan melalui bicara (bahasa aktif).
Dengan mengacu konsep ini, penanganan berupa stimulasi dan terapi akan tergantung pada fase perkembangan bagian-bagian otak yang mengatur perkembangan berbahasa dan bicara. Karena perkembangan dini otak sebelah kanan masih belum banyak dikenal, Xavier Tan menjelaskan tentang hal ini lebih lanjut. Pemahaman ini sangat penting diketahui oleh orang tua dalam rangka menstimulasi perkembangan anak.
Kata-kata afeksi mempunyai dua pengertian, pengertian pertama adalah bahwa bicara awal dari seorang anak merupakan hubungan emosi sosial, atau mempunyai konotasi afektif. Pengertian kedua bahwa artinya disana ada relasi afektif sebagai pendukung dari perkembangan bahasa dan bicara seorang anak∗.
Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa dalam rangka memberikan stimulasi dan terapi pada anak kita perlu memanfaatkan perkembangan emosi, gerak (tarian), ayunan, dan musik. Misalnya: sepatu baru (afek: punyaku), hampir ulang tahun (afek: menegangkan), kucing hilang (afek: kehilangan).
Pengembangan dan penyentuhan emosi perlu diresonansikan dalam bentuk nyanyian dan cakap-cakap pendek, dengan gerakan-gerakan, dan ayunan. Upayakan agar tetap adanya sinkronisisasi dalam berbagai bentuk (sikap/gerakan/non-verbal cues). Kemudian kembangkan dalam bentuk “small talk”. Dalam hal ini juga perlu dihindari komunikasi dalam situasi komando (dimana anak harus menjawab pertanyaan), karena hal ini merupakan salah satu kelemahannya.
Kata-kata yang mempunyai makna emosi misalnya: oo…,aduh…, oh sayang yaaa…, kasihan…
Di usia ini anak membutuhkan dukungan perkembangan emosi, karena itu stimulasi agar ia mengeluarkan apa yang dirasakannya, dan beri dukungan dengan kata-kata yang mengandung makna emosi. Misalnya ia mempunyai sepatu baru, saat ia menunjukkan sepatunya, kita sambut dengan berbagai kata yang mempunyai makna emosi. Dengan begitu ia akan merasa aman dan bisa membangun emosi sosial dengan kita, agar untuk selanjutnya ia mampu membangun komunikasi yang lebih luas.
∗ Seorang bayi akan mempelajari dan mengembangkan emosinya adalah melalui sentuhan ibu, suara yang didengar, melalui apa yang dilihat, melalui apa yang diciumnya, dan apa yang dirasakannya melalui pengecapannya. Semuanya adalah melalui indera yang dimiliki setiap individu yang baru lahir. Melalui indera inilah segala informasi tentang dunia sekelilingnya diterima dan disimpannya di dalam otak, yang akan diproses selanjutnya menjadi umpan balik atau keluaran yang berbentuk perkembangan emosi. Bila seorang anak mengalami gangguan perkembangan inderanya, maka ia juga akan mengalami gangguan perkembangan emosinya. Dengan adanya hubungan antara ibu dan anak, perkembangan emosi itu akan terus berkembang menjadi perkembangan sosial emosional. Namun adanya perkembangan yang tidak selaras dari indera, juga akan mengganggu perkembangan sosial emosional ini. Sebagai seorang ibu, kita harus senantiasa memperhatikan hal yang satu ini, yaitu perkembangan emosi anak melalui berbagai sentuhan indera. Kita harus bisa mengetahui sentuhan indera yang bagaimana yang dirasa nyaman oleh si bayi.
Faktor pendukung
Beberapa faktor yang perlu mendapat perhatian sebagai faktor pendukung perkembangan bahasa dan bicara anak-anak dengan pure dysphatic development:
– faktor relasi emosi dikatakan sebagai faktor penunjang perkembangan adalah karena agar si anak dapat mengembangkan dirinya sendiri dengan cara membangun relasi sosial dengan seseorang terdekatnya;
– kontak fisik dengan sentuhan, belaian, ciuman, duduk berdampingan, yang mempunyai arti baginya, akan memberikan rasa aman pada anak, selain itu juga kita perlu mensinkronisasikan diri dengan sentuhan anak (body awarness);
– faktor motorik mempunyai arti dalam pengembangan bahasa dan bicara, sebab berbicara adalah gerakan/motorik, dan gerakan akan menstimulasi bicara;
– faktor imitasi: pada dasarnya perkembangan bahasa dan bicara anak didasari pada faktor imitasi dari apa yang diucapkan dan dibicarakan oleh orang-orang sekitarnya;
– faktor permainan sebagai alat bantu akan lebih mempermudah hingga terjadinya spontanitas anak untuk melakukan interaksi terutama guna peningkatan kemampuan non-verbal.
Prinsip penanganan pada fase awal verbal
Dalam fase ini Instituut Dysfatisch Ontwikkeling menggunakan metode yang kemudian dinamakan Tan-Sóderbergh Metoda, yang sudah dimulai dicobakan oleh institute ini sejak tahun 1986. Prinsipnya adalah memanfaatkan perkembangan yang dominan pada anak-anak ini, yaitu mereka mempunyai perkembangan otak sebelah kanan yang dominan. Otak sebelah kanan ini lebih berfungsi untuk mengatur fungsi visual, seperti mengenal berbagai logo-logo, lebih cepat membaca melalui berbagai logo dan alfabhet, maka kelebihan ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan juga kemampuan verbal yang tertinggal. Metoda ini diperuntukkan pada anak-anak pure dysphatic development usia 3-4 tahun, saat mana anak-anak ini sudah mulai berbicara.
Kegiatannya dilakukan perkelompok, di sekolah, antara 4 – 5 anak dengan satu orang pembimbing. Selain dilakukan di sekolah juga dilakukan secara simultan dan terpadu di rumah oleh orang tua/ibunya. Karena itu tetap dibutuhkan kerjasama terpadu antara orang tua dan guru. Perkembangan
individual tetap mendapatkan perhatian, agar kegiatan yang diberikan sesuai dengan perkembangan dan minat anak.
Pada prinsipnya metoda ini mengajarkan berbicara dan berbahasa dengan menggunakan berbagai kata-kata yang menjadi perhatian si anak, kata-kata dan huruf serta kalimat yang tersebar dimana-mana di sekitarnya. Perhatian anak ini kita manfaatkan untuk mengembangkan apa yang ia lihat, dan kita manfaatkan untuk mengembangkan kemampuan verbalnya yang tertinggal∗. Huruf, kata-kata, kalimat yang menjadi perhatiannya itu kita kembangkan bahwa hal itu menjelaskan sesuatu, dimana referensi (buku-buku) yang bisa menjelaskan kata-kata tadi. ( Misalnya ia melihat kata kapal, kita jelaskan kapal itu apa, bagaimana bentuknya, dimana dapat kita temukan, bagaimana menbuatnya, dan seterusnya).
Söderbergh sendiri menjelaskan bahwa mulailah dengan nama-nama anggota keluarga, papa, mama, adik, kakak, oma, opa, dan jelaskan melalui skema, gambar, foto, arti mama, dan arti papa, kakak dan adik. Dengan satu thema ini saja kita bisa mengembangkan ke banyak kata, kalimat, dan cerita. Membuat berbagai permainan dengan cerita papa, mama, kakak, adik. Memanfaatkan berbagai perlengkapan yang bisa menjelaskan tentang figur-figur tadi (pakaian, sepatu, tas). Manfaatkan berbagai permainan seperti permainan memori untuk lebih mengenal dan mengulang kata-kata tersebut. Dengan begitu berbagai kata-kata yang berdiri sendiri tanpa makna, nama-nama benda, nama orang, dan kata ganti orang, akan segera dipelajari dan mudah masuk ke dalam memorinya. Menghapal akan kata-kata yang berdiri sendiri tadi merupakan salah satu kelemahan dari anak-anak kelompok ini, karena dalam mempelajarinya memerlukan bantuan kemampuan visualnya yang memang kuat.
Sedang Xavier Tan lebih mengembangkan apa yang sudah diperkenalkan oleh Södenbergh, Tan mengembangkan dengan pendekatan menggambar dan menulis. Apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh anak diharapkan dapat dikeluarkan melalui gambar, lukisan, dan cerita tertulis. Dari upaya menarik yang dipikirkan dan yang dirasakan oleh anak dikembangkan lebih lanjut secara kreatif dalam sebuah cerita yang penuh petulangan yang memikat. Kata-kata penting yang dikenal anak dituliskan dalam sebuah kartu bersama gambar yang telah dibuat, dimasukkan ke dalam satu map, yang sewaktu waktu dapat dikembangkan lebih lanjut. Dengan begitu setiap saat akan dengan sendirinya berlatih. Menulis kata-kata tadi dapat menggunakan stempel ABC. Atau kita bisa juga menggunakan huruf magnit yang dapat kita letakkan dimana-mana (lemari es, dapur, ruang makan, ruang tamu.
Sekali lagi Xavier Tan menegaskan bahwa metoda Södenbergh-Tan ini bukan program training, kegiatan sepanjang hari dan setiap hari tergantung dari
∗ Anak-anak visual learner yang kreatif umumnya membaca di usianya yang sangat dini dengan cara membaca berbagai symbol, logo, iklan, merek-merek yang ditemuinya di sekitarnya setiap hari. Dengan cara mengutak atik apa yang ditemuianya ia akan mampu mengembangkan kemampuan membacanya.
perkembangan seorang anak, dan hanya diberikan kepada anak-anak yang mempunyai kemampuan reseptif baik, dan mampu berbahasa symbol (non-verbal) yang baik, serta telah mempunyai perkembangan bicara namun belum mampu mengembangkan bahasa ekspresi secara baik, dalam bentuk kalimat yang baik dan yang mempunyai arti.
Pengembangan menulis dan bacaan terus dikembangkan sesuai dengan kemampuan anak, yang makin lama materi bacaan, cerita, gambar, musik dan nyanyian diarahkan kepada pengenalan masalah-masalah yang bisa ditemui setiap hari, serta berbagai cerita yang berthemakan sosial emosional.
Terapi wicara
Fase verbal
Xavier Tan & Njiokiktjien berpendapat bahwa speech patolog klasik pada umumnya lebih menekankan pada pelatihan berbicara dan perbaikan pada gejala-gejala gangguan bicara, dan cognitive linguistic (yang diatur oleh bagian otak sebelah kiri). Tujuan terapi wicara adalah training ketrampilan (misalnya memperbanyak daftar vocabulary, dan melakukan imitasi struktur kalimat) yang dalam prakteknya digeneralisasi dan menjemukan. Selanjutnya Xavier Tan dan Njiokiktjien menyitir apa yang dijelaskan dalam buku Handbook Taalontwikkeling, Taalpathologie en Taaltherapie bij Nederlands Sprekende Kinderen (1994,2000), ada 5 bentuk penekanan pada terapi wicara.
1. Penekanan pada faktor verbal.
Sebelum tahun 1970 dilakukan latihan prasyarat perkembangan bicara yaitu sensomotorik, pencanderaan secara umum, yang bisa secara cepat diikuti oleh anak bila anak sudah mempunyai adanya perkembangan pencanderaan auditif (artinya telah ada perkembangan otak sebelah kiri dengan fungsi yang baik) . Setelah tahun 1970, stimulasi dan programa pengayaan bahasa dikembangkan lebih luas lagi guna meningkatkan kwalitas pelayanan
2. Penekanan pada faktor syntaxis.
Dalam hal ini lebih diarahkan pada memberi pelajaran struktur syntax (gramatika) yang lebih spesifik yang perkembangannya memang tidak mencukupi bila dibanding teman sebayanya. Terapis memberikan layanan disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak berdasarkan hasil dari analisa, yang dibandingkan dengan kemampuan rata-rata anak seusianya (penekanan pada produksi bahasa). Dari sini kemudian dilakukan latihan (dengan model imitasi) tahap bertahap hingga ia berada di atas kemampuan yang ada agar mencapai kemampuan rata-rata anak seusianya. Kekurangan dari memberikan pelatihan dengan cara agar anak mengikuti program (imitasi) ini menjadikan anak tidak melakukan pengembangan kemampuan secara spontan. Namun
bukan berarti bahwa memberikan pelatihan dengan cara imitasi tidak perlu, tetap diperlukan, hanya saja dalam metoda Södenbergh-Tan penekanannya pada spontanitas dan kemampuan diri anak. Sebab menurut Södenbergh-Tan anak-anak pure dysphatic development ini mempunyai bahasa yang ia kembangkan dengan caranya sendiri, yang hidup, spontan, dan penuh dengan perasaan, disebutnya sebagai innerlijke spraaktaal atau inner speechlanguage.
3. Penekanan pada faktor semantik-kognitif.
Dalam hal ini anak diarahkan agar mempunyai kemampuan pengertian bahasa; dimana kemampuan ini berkaitan langsung dengan pemrosesan bahasa. Dalam sesi terapi anak diajak untuk memahami kata-kata, hubungan satu kata dengan kata yang lainnya, kaitannya dengan tata ruang atau dimensi, kaitannya dengan waktu, dlsb. Pendek kata ditekankan pada apa yang diucapkan dan pemahamannya. Pendekatan dialog antara terapis dan anak merupakan hal yang paling penting. Terapis banyak bertanya, dan anak menjawab, yang oleh Södenbergh-Tan justru dikritik sebagai pada akhirnya melahirkan situasi komando dimana anak harus menjawab pertanyaan, padahal hal ini adalah kelemahan anak-anak pure dysphatic development.
4. Penekanan pada faktor pragmatik.
Dalam hal ini diarahkan agar anak mempunyai kemampuan penguasaan bahasa, dan bagaimana penggunaan bahasa yang baik. Komunikasi timbal balik dan interaksi sosial merupakan pusat perhatian dari pelatihan, yang akan menghasilkan peningkatan kemampuan bercakap-cakap.
5. Penekanan pada faktor komunikasi.
Dalam hal ini diarahkan bagaimana bentuk komunikasi yang cocok untuk anak-anak dan dewasa bila kemampuan verbal tidak dapat lagi dikuasai.
Tujuan dan perangkat
Tujuan penanganan ini adalah untuk meningkatkan perkembangan bahasa dan bicara terutama produksi bahasa dengan cara bagaimana anak dapat mengeluarkan berbagai ide yang ada di kepalanya dalam bentuk kata-kata, serta perluasan penguasaan berbahasa. Namun bentuk imitasi pun akan mendapatkan penghargaan secara positip. Struktur gramatika juga akan senantiasa dilatih. Bentuk Tanya jawab akan juga difasilitasi. Pada akhirnya diupayakan agar anak dapat berbahasa dan berbicara dengan lancer. Anak dapat belajar mengatasi words finding secara cepat, untuk kemudian agar lebih mudah memformulasi dan bercerita. Innerlijke spraak-taal (kemampuan berbahasa inner) distimulasi agar mampu ditunjukkan secara eksplisit.
Ergotherapy
Ergotherapy adalah terapi gerak dan sensoris dalam hal ini lebih ditujukan untuk melatih jika anak mempunyai masalah dalam pengucapan (dyspraxia) yang disebabkan karena gangguan pada motorik dasar, indera, terlalu sensitive,
serta gangguan fisik lainnya. Tujuannya untuk mengatasi aspek gangguan secara spesifik yang dibutuhkan dalam mendukung perbaikan bahasa dan bicara.
Salah satu contoh kartu flip-flap yang digunakan untuk anak usia 6 tahun, bercerita dengan gambar memanfaatkan karakteristik visual learner.
Sumber bacaan: Xavier Tan (red) (2005): Dysfatische Ontwikkeling, Theory – Diagnostiek – Behandeling, Suyi Publicaties – Amsterdam.

Kakak Vs Adik 2

Posted in Pendidikan dan Perkembangan AUD on 26 Desember 2008 by dadan suryana

Agar Kakak Tak Cemburu Pada Adik Bayi

Jika tidak dipersiapkan secara tepat, kelahiran adik baru bisa memicu kecemburuan kakaknya. Ia merasa mendapatkan saingan, dan tidak lagi diperhatioan oleh seluruh anggota keluarga.

Meskipun kecemburuan ini bersifat manusiawi, Anda tidak boleh membiarkan hal ini berlanjut. Agar kelak hubungan antara si kakak dengan adik, juga Anda sebagai orang tuanya tetap harmonis.
Kenali penyebab kecemburuan

*

Rasa cemburu pada anak yang lebih tua muncul karena posisinya sebagai anak kesayangan mulai terancam dan tersaingi.
*

Tahapan perkembangan adik yang masih bayi menarik perhatian seluruh keluarga. Kondisi inilah yang paling sering memicu kecemburaan pada kakak. “Aku lebih pandai dari adik, kok tidak diperhatikan?”

Jenis pelampiasan

Kecemburuan pada si adik biasanya dilampiaskan dengan berbagai perilaku, dari yang positif hingga negatif. Tergantung pada bagaimana cara si kakak menarik perhatian orang tuanya, contoh:

1.
Sayang dan selalu ingin dekat adik. Kondisi ini adalah pelampiasan rasa cemburu yang positif. Jika sayang pada adik, ia berharap mendapatkan rewads berupa pujian sehingga orang tua akan memperhatikannya.

2.
Menyakiti adik. Memukul, mencubit, mengigit, mencakar dan menjambak adik adalah kecemburuan yang dilampiaskan secara negatif.

3.
Marah dan ngambek. Sulit diatur, mudah marah, rewel dan tiba-tiba menjadi cengeng.

Jangan bereaksi secara berlebihan jika si kakak menunjukan pelampiasan secara negatif, karena hal tersebut hanya semakin memupuk perilaku negatifnya. Pendekatan yang bijak akan membantu anak memahami situasi secara tepat.
Dampak jika tidak tertangani

*
Jika dibiarkan berlarut-larut, ada kemungkinan saat dewasa perasaan cemburu ini berlanjut menjadi iri dan dengki. Sehingga hubungan antarsaudara menjadi tidak harmonis.

*
Anak akan mengembangkan sifat rendah diri, susah menerima kekalahan, egois, serta sulit menerima saran.

*
Memburuknya hubungan dengan orangtua. Sikap orang tua yang dianggap tidak adil, mudah membekas pada anak. Tak mustahil perasaan ini akan terus terpendam hingga dewasa. Akibatnya, hubungan anak dengan orang tua tidak seharmonis yang diharapkan.

Solusi

*

Persiapan secara mental bisa diberikan kepada si kakak sejak adik belum lahir. Bicarakan secara ‘natural’ dan jangan membuatnya cemas. Tak perlu terburu-buru, sebaiknya tunggu hingga ia bertanya lebih dulu.
*

Ceritakan tentang proses kelahirannya, dan perasaan bahagia Anda ketika hal itu terjadi. Sehingga ia mengetahui bahwa Anda pun melakukan hal yang sama untuknya.

*

Jika ada teman atau anggota keluarga yang melahirkan, ajaklah ia untuk ikut berkunjung, sehingga ia tahu bahwa bayi baru adalah bagian dari kehidupan keluarga.

*

Libatkan si kakak pada kehamilan Anda. Ajak ia ikut saat Anda pergi kontrol ke dokter kandungan. Perlihatkan hasil USG yang sudah dicetak.

*

Libatkan si kakak saat Anda menyiapkan keperluan untuk kelahiran adiknya. Misalnya saat Anda membeli baju biarkan ia membantu memilihkan.

*

Biarkan ia ikut mencari dan memilihkan nama untuk calon adiknya.

*

Saat adik bayinya lahir, libatkan ia dalam kegiatan-kegiatan adiknya. Misalnya, proses makan, memandikan, memberi susu, dan sebagainya.

*

Selalu jelaskan padanya jika adik bayi perlu mendapat perawatan karena dia belum bisa melakukannya sendiri. Nah, kakak juga harus ikut merawat karena adiknya butuh perhatian dari seluruh isi rumah ini.

*

Sesering mungkin ucapkan padanya bahwa kasih sayang Anda dan ayahnya tidak berkurang sedikitpun padanya. Belai dan berikan ciuman padanya. Bentuk perhatian yang bukan materi akan sangat berarti buatnya.

GEJALA LOMPATAN PERKEMBANGAN PADA ANAK GIFTED

Posted in Pendidikan dan Perkembangan AUD on 26 Desember 2008 by dadan suryana

GEJALA LOMPATAN PERKEMBANGAN
PADA ANAK GIFTED
Catatan: gejala-gejala di bawah ini dapat dilihat oleh dokter anak tumbuh kembang melalui pemeriksaan
tumbuh kembang secara berkala, mengikuti patokan normal populasi setempat.
PERIODE BAYI
Pada perkembangan nol hingga 2,5 tahun, masih terlalu dini untuk memberi label sebagai
anak gifted, namun kepadanya diberi label lain yaitu anak dengan lompatan perkembangan
(kinderen met ontwikkeling voorsprong). Pada anak tersebut terdapat beberapa gejala yang
dapat menunjukkan bahwa kelak anak tersebut akan berkembang menjadi anak gifted. Gejalagejala
ini umumnya akan dikenal kembali oleh orang tuanya jika melihat kembali masa-masa
lalunya.
Gejala
• Lebih besar dan lebih berat dari rata-rata anak yang lahir
• Tak sabaran
• Cepat dalam perkembangan membalas senyuman dan melihat ke sekililing
• Waktu tidur yang sedikit
• Sangat alert
• Sangat sensitive
• Perkembangannya cepat
• Mempunyai pola yang tetap dan teratur
• Seringkali sangat tergantung, seringkali menuntut perhatian lebih
• Mempunyai daya ingat yang kuat
Untuk perilaku tertentu, menunjukkan lebih cepat berkembang dibanding rata-rata
(tergantung pada minggu atau bulan tertentu diusia bayi):
Motorik halus:
• Melihat ke tangannya
• Memainkan kedua tangannya di depannya
• Mengambil blokje
• Mengambil blokje kedua dengan tangan yang lain
• Mengambil dan memasukkan blokje dari kotak
• Bermain memberi dan menerima
Motorik kasar:
• Akan stabil jika dilepas
• Merangkak dengan perut di lantai
• Menegakkan badan
• Merambat
• Jalan
Komunikasi dan perkembangan personalitas
• Membalas senyuman
• Bereaksi terhadap namanya
• Mengatakan dada, baba, gaga
• Bereaksi jika dipanggil namanya
• Melambaikan tangan dag dag
• Berbicara dengan dua kata yang mempunyai makna
• Memahami beberapa kalimat yang digunakan sehari-hari
• Dapat menolong diri sendiri
• Bermain dengan anak lain
• Mempunyai pendapat sendiri
• Dapat diberitahu/perintah
• Mempunyai inisiatif
Catatan:
Tidak semua anak gifted mempunyai gejala yang lengkap sebagaimana di atas, namun
secara umum mempunyai gejala-gejala yang banyak dari daftar di atas. Anak-anak yang
lahir premature dapat saja berkemungkinan kelaknya ternyata adalah anak-anak gifted.
Dari laporan para orang tua, umumnya anak-anak ini di minggu pertama sudah dapat
membalas senyuman. Mata mengikuti gerakan juga sangat cepat berkembang. Banyak
dari bayi-bayi ini yang mempunyai jam tidur sedikit. Pada dasarnya banyak yang
menggambarkan anaknya merupakan anak yang hiperaktif, yang menuntut ekstra enerji
dari orang tuanya.
Bayi-bayi ini mempunyai perkembangan merangkak dan berjalan yang lebih cepat dari
jadwal rata-rata. Umumnya berjalan sebelum usia satu tahun.
Yang jelas bila dibandingkan dengan perkembangan rata-rata akan sangat nampak bahwa
bayi-bayi ini mempunyai lompatan perkembangan.
Perilaku overaktif nampak sebagai akibat dari perkembangan sistem neuromuskularnya,
yang telah diketahui bahwa perkembangan sistem persyarafan anak-anak gifted akan
memakan waktu lebih lama daripada rata-rata anak. Karenanya juga anak-anak ini
mempunyai sistem pancaindera yang sangat sensitif, misalnya terhadap ransang raba,
cahaya, dan suara. Disamping itu ketahanan tubuhnya juga sangat sensitif dan menjadi
rentan. Yang perlu dijelaskan juga adalah bahwa sangat banyak anak-anak gifted yang
mengalami alergi misalnya terhadap bahan pewarna dan penambah rasa.
Kebanyakan bayi akan membawa pengalaman dan kesan-kesannya turut dalam tidurnya.
Bayi-bayi ini akan lebih tenang jika dikembalikan pada pola-pola yang teratur dan
tertentu. Bila hal ini dilanggar maka anak-anak ini akan bereaksi terhadap situasi, marah
dan selalu menangis.
Dalam kurva berat badan dan tinggi badan, perlu diamati seberapa jauh pertumbuhannya
bila dibandingkan dengan rata-rata anak seusianya. Dalam pemeriksaan berkala dapat
dilihat juga kapan anak-anak ini merangkak, berjalan dan seterusnya. Bila ia melebihi di
atas rata-rata anak seusianya terutama perkembanga motorik dan kognitif, maka dapat
diartikan bahwa bayi-bayi ini mempunyai lompatan perkembangan.
SARAN yang dapat diberikan oleh dokter tumbuh kembang pada orang tua:
• Sedapat mungkin tidur siang dipercepat sepagi mungkin, setidaknya di akhir jamjam
pagi hari.
• Istirahatlah saat anak tengah tidur
• Orang tua juga perlu menyediakan waktu luang untuk diri sendiri
• Bila di boks bayinya ia masih bangun, cobalah putar musik lembut untuknya
• Perhatikan yang dapat merangsang inderanya, terutama bunyian, sentuhan, dan
cahaya (anak-anak ini sangat sensitive terhadap berbagai rangsangan itu)
• Buatlah kestrukturan dan keteraturan kegiatan
• Terimalah keadaan ini
TIPS bagi dokter tumbuh kembang
• Waspadalah jika ada laporan orang tua tentang perkembangan, gangguan tidur, banyak
gerak yang meminta enerji ekstra dari orang tua
• Bila anak itu tidak melalui fase merangkak, selanjutnya perkembangan motoriknya
harus mendapatkan perhatian, jika perlu minta bantuan pada fisioterapi
• Beri berbagai tip misalnya dalam masalah tidur
• Gunakan juga berbagai tes yang sebetulnya untuk tes-tes yang akan datang
• Anjurkan orang tua untuk mencari bantuan keluarga. Dalam kaitannya dengan
mengatasi masalah sensoris, meletakkan bayi di day care tidak selalu sebagai
pemecahan masalah.
• Beri orang tua hasil laporan pemeriksaan anda untuk diberikan juga ke pihak sekolah
(taman bermain atau taman kanak-kanak). Hal ini akan menjadi upaya menolong
orang tua dan merupakan awal yang baik dalam menanganinya.
USIA 1-4 TAHUN
Balita usia 2,5 – 4 tahun dengan lompatan perkembangan biasanya tidak terlalu banyak
masalah bila dibandingkan dengan masa-masa bayinya. Anak-anak ini belajar segala sesuatu
sangat cepat. Mereka menuntut jawab bagi banyak pertanyaannya untuk mendapatkan
informasi, dan mereka juga mengerjakan sesuatu yang berbeda-beda.
Dalam upaya eksplorasinya yang antusias itu umumnya ia melihat peralatan atau alat-alat
mainnya secara cepat sekali, sehingga sebagai orang tua harus terus menerus berupaya
mencari sesuatu yang baru dan menantang. Seringkali juga menyulitkan.
Gejala
• Mempunyai keterikatan pada pola yang sama
• Mandiri
• Mempunyai loncatan perkembangan kognitif
• Motorik halus
• Tidak bisa bermain dengan teman sebaya, namun lebih menyukai dengan yang lebih
tua
• Konsentrasi terhadap tugas
• Perfeksionisme
• Seringkali belajar membaca dan berhitung sendiri
• Berkemampuan logik dan analisa yang baik
• Mempunyai perhatian yang luas dengan apa yang terjadi di sekitarnya
Dalam melihat gejala-gejala tidak selalu semua gejala akan dipenuhi, namun seringkali
terjadi yang terbanyak adalah mempunyai gejala-gejala di atas.
Untuk melihat adanya lompatan perkembangan umumnya kita dapat mengamati pemahaman
apa saja yang sudah dimiliki anak:
• Penjumlahan (banyak/sedikit, lebih/kurang)
• Pemahaman waktu (hari ini, besok)
• Pemahaman hitungan
• Jumlah dafatr kata-kata yang dimiliki dan penggunaan bahasa dibandingkan dengan
anak seusianya
• Mempunyai kemampuan observasi yang baik
• Berpikir logik (sebab akibat)
Tentang perkembangan kognitif ini kita tak perlu menekankan akan menyebabkan masalah.
Biarkan si anak mengembangkan dirinya melalui apa saja yang ia inginkan. Jangan
menghambat perkembangan kognitif misalnya dengan cara melarangnya.
Observasi motorik halusnya melalui:
• Koordinasi mata-tangan saat bekerja
• Menggambar boneka sebagai ganti menggambar “koppoter” (boneka jabrik atau
orang-orangan sawah)
• Menempel dan menyobek
• Menyusun manik-manik
• Mewarnai dengan potlod
• Menggambar pinggiran
• Meletakkan puzzel kecil-kecil
Masalah-masalah yang dapat terjadi dalam perkembangan yang buruk
Bila seorang anak balita tidak terdeteksi sebagai anak yang mempunyai lompatan
perkembangan, maka akan menyebabkan masalah dalam perkembangan sosial emosionalnya.
Semakin lambat anak ini terdeteksi, masalah yang ditimbulkan akan semakin besar.
Pada anak-anak balita kita dapat mengamatinya dari beberapa perilaku di bawah ini.
Perkembangan Sosial
• Si anak mengalami kesulitan bila harus melakukan kontak dengan anak-anak lainnya
• Diajuhi oleh teman-temannya
• Mengganggu permainan atau pekerjaan teman lain
• Banyak terlibat dalam perkelahian dan konflik
• Sulit diajak bekerjasama
• Sulit berbagi dengan teman lain
• Sulit menerima pendapat orang lain
• Suka mengolok
• Sulit menerima kekalahan
• Kurang mengambil inisiatif untuk kontak sosial
Perkembangan emosional
• Anak menjadi pendiam dan menarik diri
• Takut menunjukkan dirinya
• Takut bertanya dan takut menjelaskan sesuatu
• Kurang percaya diri dan merasa tidak yakin
• Menuntut banyak perhatian dari guru dan teman-temannya
• Seringkali menjadi agresif terhadap anak-anak lain
• Sulit turut dalam aturan permainan/peraturan dalam kelompok
• Sedikit mengeluarkan perasaannya
• Bereaksi secara ekstrim dalam kontak fisik
• Tidak menikmati sekolah
• Selalu bermasalah jika harus berangkat tidur
• Kebiasaan yang khas yang selalu muncul (menggigit kuku, keras kepala tidak mau
diberitahu)
• Menjadi brutal dan agresif
• Hiperaktif dan banyak gerak
• Pelamun
• Tegang
GEJALA-GEJALA YANG SERING DILAPORKAN ORANG TUA
Gejala yang sering disampaikan orang tua pada dokter tumbuh kembang dan dokter sekolah,
bukan dimaksudkan untuk menegakkan diagnosa bahwa ia seorang anak gifted. Namun bisa
berupa indikasi kemungkinan si anak adalah anak yang mengalami lompatan perkembangan.
1. Selalu sibuk yang sangat intens.
Kebutuhannya untuk menyibukkan diri pada anak ini lebih intensif bila dibandingkan ratarata
anak seusianya. Ia lebih aktif, dan selalu ingin melakukan segala sesuatu terus
menerus.
2. Banyak enerji
Sekalipun ia mempunyai aktifitas yang banyak beberapa diantaranya justru kebutuhan
tidurnya lebih sedikit daripada anak-anak balita lainnya. Pekerjaan orang tua juga menjadi
lebih banyak. Orang tua menjadi terlalu lelah.
3. Perkembangan bahasa
Perkembangan ini umumnya berkembang cepat sejak awal. Kadang diikuti dengan bahasa
aktif berkembang belakangan (ketertinggalan perkembangan bicara), namun ia akan
menyusul ketertinggalan perkembangan itu dengan cepat. Ia mempunyai daftar kata-kata
yang banyak, penggunaan kata-kata yang lebih intensif dan menggunakan kata-kata
abstrak.
4. Kebutuhan akan pengetahuan
Anak-anak ini selalu ingin tahu, mengingatnya dengan baik, dan menggunakannya secara
langsung dan baik. Kebutuhan akan pengetahuan adalah kebutuhan internalnya dan tidak
tergantung pada imbalan. Si anak mengambil inisiatif sendiri, bertanya terus menerus dan
tidak puas dengan jawaban yang tidak jelas. Kita sudah mengetahui bahwa diusia tiga
tahun adalah usia dimana anak selalu bertanya “mengapa”, namun pada anak-anak yang
mengalami lompatan perkembangan ini ia akan bertanya tanpa putus-putusnya. Seringkali
anak-anak ini membuat pertanyaan baru dari jawaban atas pertanyaan yang lalu.
5. Kosentrasi dan tugas
Anak balita ini dapat secara mandiri intens dan dalam waktu yang lama mengerjakan apa
yang dipilihnya.
6. Kearah perfeksionisme
Ia akan selalu mencoba hingga ketrampilan itu dicapainya. Tetapi dapat juga ingin
mencapai sesuatu secara perfek tanpa harus melakukan latihan. Dengan cara mengkritik diri
sendiri biasanya ketrampilan ini dapat dikuasinya.
7. Kemandirian
Sejak dari usia sangat muda sudah selalu menginginkan mengerjakan sesuatu sendiri. Lebih
memilih mencoba tanpa henti-hentinya dan tidak mau menerima bantuan. Dengan cara
dimana ia melakukannya sendiri itu, maka pada anak-anak ini akan berkembanglah
identitas diri yang kuat.
8. Perhatian terhadap kehidupan
Sejak usia tiga atau empat tahun ia sudah mulai memikirkan tentang kehidupan dan untuk
itu ia selalu mengajukan pertanyaan yang dalam. Ia tidak hanya ingin tahu dari mana
manusia berasal, tetapi juga kemana mereka kelak perginya. Pemikiran-pemikiran ini
sudah muncul sejak anak tersebut masih sangat muda yang sering membawanya pada
pemikiran bahwa hidup ini sesungguhnya percuma.
Balita yang lebih besar kelak umumnya mempunyai kebiasaan tidur yang semakin buruk.
Banyak yang menjelaskan bahwa mereka memang lelah, tetapi masih banyak yang harus
dipikirkan. Pertanyaan terbanyak yang paling kompleks adalah sekitar seberapa banyak jam
tidur yang dapat diharapkan. Mereka juga mencoba, sebagaimana diri mereka yang kreatif,
segala sesuatu harus ada alasannya untuk berpikir agar tidak pergi tidur: lupa mengerjakan
sesuatu, ada yang masih harus diselesaikan, dan seterusnya. Namun harus selalu diupayakan
agar ia mempunyai jam tidur yang tetap. Upayakan hindari diskusi atau konflik. Letakkan
peraturan yang tegas.
Tips untuk orang tua
• Buatlah pola yang tetap dan keteraturan
• Upayakan setiap malam menjelang tidur agar si anak ke kamarnya pada jam yang
tetap, dan biarkan ia berada di sana (Bila tak bisa tidur, biarlah jangan dipaksa tetapi
upayakan agar ia tetap di dalam kamarnya mengerjakan sesuatu yang masih harus
dikerjakannya) sampai waktu tertentu.
• Stimulasi agar responsive
• Jangan mencoba untuk menghambat perkembangan
• Jangan menuntut terlalu tinggi
• Belilah mainan dimana ia memang sudah dapat menggunakannya
• Carilah mainan yang aman bagi anak-anak
• Bicaralah dengan anak pada tingkatan dirinya
• Bacalah sebanyak mungkin tentang anak gifted
• Perhatikan apakah perkembangannya sejak bayi memang berjalan dengan cepat
• Laporkan hal ini pada guru TK/SD
Deteksi sedini mungkin anak-anak ini setidaknya dua bulan sebelum anak-anak ini pergi ke
sekolah. Seorang anak gifted memerlukan layanan dan perencanaan pendidikan individual.
GEJALA YANG TERSERING DITEMUI OLEH ORANG TUA
• Gambarannya berbeda antara di sekolah dan di rumah
• Di sekolah ia mengerjakan sesuatu yang seringkali justru di rumah sudah lama tidak
dikerjakannya lagi
• Anak sering mengalami keluhan psikosomatis (sakit perut, sakit kepala) saat harus
berangkat ke sekolah
• Si anak semakin hari semakin tidak mau berangkat ke sekolah, menurutnya tidak
menyenangkan.
Di taman bermain seringkali terjadi:
• Anak tidak dapat bermain dengan anak lain, atau hanya dengan anak yang lebih tua
• Anak menunjukkan perilaku yang mengganggu, nakal
• Menuntut banyak perhatian
• Mempunyai motorik yang baik: lompat, engklek, menangkap bola
Anak-anak dengan lompatan perkembangan mempunyai perkembangan kemampuan
observasi yang cepat. Sebelum usia satu tahun ia sudah melakukan hal itu. Didukung dengan
daya ingatnya yang kuat dan kemampuan pemecahan masalah ia menjadi pelajar yang sangat
cepat. Di usianya yang ke 2 ½ – 3 tahun kita sudah dapat melihat bahwa ia mulai kehilangan
hubungan dengan anak-anak teman sepermainannya. Ia lebih menyukai anak yang lebih besar.
Saat anak itu masuk sekolah dasar banyak orang tua berpikir: “akhirnya masalahnya
terpecahkan”, namun bila terjadi salah bimbingan maka justru akan lebih bermasalah.
Adalah hal yang penting pada anak yang mempunyai lompatan perkembangan harus kita
observasi secara baik. Sedini mungkin lompatan perkembangan dapat kita kenali, makin
dini juga akan lebih mudah dikenali.
Tips hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian saat observasi:
• Mereka umumnya sangat sensitive
• Mereka selalu mencoba untuk menghindari kondisi jatuh/merosot
• Mereka meminta selalu lebih daripada anak-anak lain
• Mereka sering sudah mengetahui sejak muda sekali bahwa dirinya berbeda
• Dalam kelompoknya seringkali ia bekerja berada di bawah tingkatan kemampuannya
• Baginya dirasa tidak menyenangkan (keterlaluan) bila mereka hanya dibicarakan
tentang ketertinggalannya
• Kontak sosial dengan anak-anak gifted lainnya dapat memberikan hasil positif dalam
perkembangan sosial emosionalnya.
Akan sangat bermanfaat jika dokter tumbuh kembang dan dokter sekolah meminta orang tua
membuat laporan tertulis tentang perkembangan anaknya. Begitu juga pihak sekolah dapat
melaporkan gejala-gejala yang ditemuinya. Pihak sekolah dapat juga menggunakan formulir
laporan perkembangan 0-4 tahun yang sudah dibuat. Laporan tertulis dari dokter tumbuh
kembang dan dokter keluarga dapat digunakan sebagai lampiran. Pihak sekolah dapat
dimintakan untuk menanganinya secara kreatif. Jangan menghambat kebutuhannya. Biarkan
anak berkembang dalam tingkatan perkembangannya. Bila anak sudah saatnya masuk
sekolah, hendaknya pihak sekolah perlu mendapatkan laporan tersebut agar kepadanya dapat
segera dilakukan observasi.
Dokter keluarga
Banyak yang berpikir bahwa pada seorang anak gifted segalanya beres, baik-baik. Namun
sebetulnya, seorang anak gifted jika tidak mendapatkan bimbingan dan pengasuhan yang baik,
seringkali muncullah berbagai keluhan psikosomatik. Biasanya penyebabnya terletak
bagaimana pengetahuan si orang tua, pembimbing, dan guru. Sejak lahir, seorang anak gifted
sudah mempunyai perkembangan yang cepat. Saat di taman kanak-kanak dan sekolah dasar
akan terlihat bahwa ia mempunyai perkembangan lebih kedepan jika dibandingkan temantemannya.
Bila di sekolah ia harus mengerjakan segala sesuatu di bawah tingkat
kemampuannya, maka dalam waktu singkat ia akan mengalami kebosanan, yang
menyebabkan tidak mau berkontak dengan teman-temannya, keluhan sakit kepala, kesulitan
tidur, dan sakit perut. Keluhan ini dapat lebih parah bila si anak dalam waktu yang lama tidak
mendapatkan bimbingan. Dalam keadaan ini biasanya orang tua justru menghubungi dokter
keluarga. Bila seorang dokter keluarga mendapatkan kondisi seperti ini, perlu segera melihat
bagaimana karakteristik lompatan perkembangan si anak. Dapat dilihat bahwa ia dari seorang
anak yang gembira dalam beberapa bulan berubah menjadi anak yang agresif, atau pasif. Bila
di rumah dibiarkan dengan kefrustrasiannya, maka gambaran yang diperoleh oleh orang tua
dan guru akan sama. Karena itu akan kesulitan untuk melihat apakah ia seorang anak gifted
yang mengalami gangguan psikosomatik hanya dengan melakukan pemeriksaan fisik. Padahal
sementara itu si anak sebetulnya hanya mengalami lompatan perkembangan saja. Bila seorang
anak mendapatkan bimbingan yang tepat, umumnya keluhan-keluhan psikosomatik itu akan
hilang dengan sendirinya.
USIA 4 – 5 TAHUN
Di usia ini anak akan masuk ke sekolah TK, umumnya belum muncul masalah. Gejala yang
dapat diamati akan adanya lompatan perkembangan dapat dilihat sebagai berikut:
• Belajar membaca dan berhitung sendiri
• Mempunyai motorik halus yang sangat baik
• Lebih menyukai bermain dengan anak-anak lain
• Mempunyai konsentrasi dan ketahanan kerja yang tingi, dan dapat melakukan banyak
hal dalam waktu bersamaan
• Senang belajar
• Sangat enerjik dan tidur hanya sedikit
• Mempunyai daya ingat kuat
• Perilakunya menunjukkan bahwa ia perfeksionis
• Mudah belajar (sering kali justru hanya ingin menuruti kemauannya sendiri, dan
menyimpang dari metoda yang umum)
• Penggunaan bahasa yang sangat baik
• Mandiri dalam melakukan pekerjaan (membutuhkan sedikit petunjuk saja)
• Mampu mengerjakan tugas yang kompleks
Bila giftednessnya tidak dapat dikenali secara langsung, biasanya dapat digali melalui
pengalaman orang tua:
• Dalam waktu singkat si anak tidak menyukai sekolah
• Di rumah si anak sangat pasif
• Di rumah si anak akan menjadi anak yang agresif
• Dalam keadaan tidur gigi gemerutuk (bruxism), berkeringat, dan tidur tak tenang
• Menggigit pakaian
• Keluhan psikosomatik, seperti sakit kepala, sakit perut. Biasanya keluhan ini hanya
berlangsung saat hari-hari sekolah bukan di akhir pekan atau liburan
• Si anak sama sekali tidak akan mau membicarakan tentang sekolah
• Bila mengamati pekerjaannya di sekolah nampak ia melakukan pekerjaan di bawah
tingkat kemampuan, atau melakukan imitasi pekerjaan teman-temannya
• Si anak diharapkan oleh pihak sekolah agar bisa belajar
Sangatlah penting untuk mencari bantuan memecahkan permasalahan, jangan sampai
pandangan/gambaran terhadap si anak menjadi rusak. Dan juga akan berlanjut menjadi
underachiever (prestasi rendah) atau terkembangnya faalangst (merasa tidak bisa padahal
bisa). Bila si anak mendapatkan bimbingan yang baik, maka keluhan-keluhan itu dapat
berkurang dan bahkan menghilang.
Mula-mula lakukan kontak dengan pihak sekolah, sementara itu jelaskan pada dokter sekolah
atau dokter keluarga untuk mencari jalan keluar bagi keluhan fisik dan atau psikis yang
dialami oleh si anak sebagai akibat dari buruknya kinerja di sekolah.
Jangan mengharapkan semuanya dari pihak sekolah, tapi upayakan semaksimal mungkin
untuk melakukan bimbingan yang baik bagi anak. Bisa juga untuk memperkuat upaya itu
menggunakan brosur ini sebagai bahan acuan.
TIPS untuk dokter sekolah
• Perhatikan bagaimana tumbuh kembang si anak sejak usia bayi
• Bacalah lebih banyak tentang anak-anak gifted dan anak-anak dengan lompatan
perkembangan
• Perhatikan perilaku/laporan si anak
BEBERAPA HAL YANG PERLU MENJADI PERHATIAN ORANG TUA
• Apakah si anak menyukai berangkat ke sekolah?
• Apakah segalanya terlalu mudah?
• Adakah si anak mempunyai kontak sosial?
• Adakah si anak mempunyai keluhan psikosomatik?
• Apakah si anak mempunyai prestasi yang berubah-ubah?
• Apakah menurut si anak bahwa sekolah tidak menyenangkan?
• Apakah perilaku anak berbeda antara di sekolah dan di rumah?
• Apakah si anak lebih menyukai bermain dengan anak yang lebih tua?
HAL-HAL PENTING YANG PERLU DIPERHATIKAN SEKOLAH
Berbagai tes
Pertama-tama guru perlu melakukan observasi dalam kelompok, untuk kemudian lakukan
diskusi dengan orang tua, dan cari upaya agar dilakukan tes pada lembaga bantuan pedagogi.
Hasilnya dengan orang tua didiskusikan, dan buatlah segera rencana pembelajaran untuk
tahun berikutnya.
Akselerasi/percepatan
Seorang anak gifted dapat dengan cepat menyelesaikan bahan ajar umum. Percepatan dapat
dilakukan satu kali per hari atau dengan periode jangka panjang. Materi untuk percepatan
diberikan sedemikian rupa sehingga si anak juga mendapatkan pengkayaan dan pendalaman.
Cara memberikan percepatan dapat dengan beberapa cara:
• Dilompatkan kelas
• Tetap duduk di dalam kelas tetapi anak mendapatkan materi khusus
Lompat kelas
Percepatan di usia dini misalnya usia lima tahun masuk ke sekolah dasar, hal ini justru akan
memberikan banyak keuntungan.
• Si anak akan dengan mudah menyesuaikan diri
• Tidak mempunyai periode menjadi underachiever
• Kemungkinan berkembangnya faalangst (takut berbuat salah, merasa tidak bisa
padahal sebenarnya ia bisa) lebih kecil
• Penerimaan teman lain lebih mudah
• Kebutuhan belajar membaca dan berhitung pada anak di usia ini sangat besar
• Perpindahan dari periode bermain ke periode belajar agar mudah dilaluinya, maka ada
baiknya sehari sekali tetap berada di taman kanak-kanak, sampai di suatu saat ia tidak
mempunyai kebutuhan bermain lagi.
Pendapat kontroversial tentang lompat kelas sering mengatakan bahwa perkembangan sosial
emosional anak-anak itu belum mencukupi. Mereka menakutkan bahwa kelak si anak akan
kesulitan bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya. Karena anak-anak ini juga merasa
lebih menyenangi bermain dengan anak sebayanya, namun sebaliknya ia juga membutuhkan
untuk belajar lebih jauh dari teman-teman sebayanya. Sehingga jika anak-anak ini dalam
periode lama berada di sekolah taman kanak-kanak dan selalu saja bekerja di bawah kapasitas
kemampuannya, bisa jadi justru akan menimbulkan masalah sosial emosional padanya.
Dengan cara melompat-kelaskan, ia akan belajar sesuai kapasitasnya.
Dicuplik dari: Help een hoogbegafde kind – de consultatiebureau en school arts, Landelijk
informatiecentrum hoogbegaafdheid, stichting Plato, Wateringan.2002.
(Bantulah anak gifted – panduan bagi dokter tumbuh kembang dan dokter sekolah, Pusat Informasi
Keberbakatan Nasional, disebarluaskan oleh Stichting Plato, Wateringen, 2002)

Bila Anak Aktif…

Posted in Pendidikan dan Perkembangan AUD on 26 Desember 2008 by dadan suryana

Bila Si Kecil Bak ‘Kelinci Energizer’

Siapa sih yang tidak bangga memiliki buah hati yang begitu aktif? Si kecil yang tampak selalu ‘sibuk’ dengan segala aktivitas dan seakan memiliki energi yang tidak habis-habis memang membanggakan. Bila dalam dua jam mungkin seorang anak hanya bisa melakukan beberapa hal, si kelinci energizer kecil kesayangan Anda ini bisa melakukan berbagai aktivitas, dan hebatnya, nonstop!

Sebutlah mulai dari sekedar menyusun balok, memanjat-manjat, bermain bola, sambil mengejar-ngejar kucing pun dilakoninya. Selain tidak betah hanya berdiam diri, si kecil seakan punya energi simpanan lebih yang tidak habis-habis. Keaktifannya ini memang membanggakan, namun sekaligus juga menimbulkan pertanyaan dalam benak. Apa pasal?

TIDAK SAMA DENGAN HIPERAKTIF

Pertanyaan mulai timbul karena Anda mungkin juga cukup familiar dengan istilah hiperaktif. Sejuta pertanyaan pun mulai timbul karena melihat polah tingkah si kecil yang begitu aktif. Yup, anak aktif memang seringkali identik dengan hiperaktif, alias anak dengan kecenderungan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder).

Padahal anak aktif dengan anak hiperaktif tentunya berbeda. Anak yang hiperaktif menunjukkan adanya disfungsi neurologis, sedangkan anak aktif justru memiliki potensi yang cemerlang untuk disalurkan. Anak yang aktif memang seringkali tidak tampak kelelahan walaupun banyak bergerak dan melakukan aktivitas yang disukainya. Ia juga cenderung mudah bosan pada sesuatu yang monoton.

Si aktif seringkali identik dengan anak hiperaktif karena pada kecenderungan ADHD tipe hiperaktif, umumnya sang anak pun berperilaku sangat aktif (berlebihan)Yang membedakannya adalah karena pada anak aktif, aktivitas yang dilakukan umumnya memiliki tujuan yang jelas, misalnya ia memanjat kursi untuk mengambil bola yang tersangkut.

Berbeda dengan anak hiperaktif (kecenderungan ADHD) yang melakukan aktivitas tertentu, tetapi tanpa tujuan yang jelas. Misalnya memanjat kesana kemari lantas meloncat tanpa ada maksud apapun. Selain itu, anak dengan kecenderungan hiperaktif umumnya memiliki tingkat konsentrasi/kemampuan fokus yang rendah karena rentang perhatiannya pendek.

KENALI CIRI SI AKTIF!

Bila si kecil tampak selalu aktif dengan segala aktivitasnya, tetapi Anda masih juga ragu, beberapa hal di bawah dapat dijadikan penanda karena umumnya ciri anak yang aktif –bukan hiperaktif- adalah sebagai berikut:

1.Menyelesaikan aktivitasnya. Walaupun cepat bosan, tetapi anak yang aktif akan lebih sabar untuk menyelesaikan aktivitas yang sedang dilakukannya sampai tuntas. Ini yang membedakannya dengan anak hiperaktif. Ketika ia bermain menyusun balok menjadi rumah, ia akan menuntaskannya sampai menjadi sebuah rumah.
2. Kemampuan konsentrasi yang baik. Anak yang aktif memiliki rentang perhatian yang baik dan tetap dapat tetap fokus melakukan sesuatu dalam standar normal anak seusianya. Ini juga yang membedakan dengan anak hiperaktif yang biasanya sangat cepat bosan dan langsung melakukan hal lain tanpa menyelesaikan aktivitas sebelumnya.
3. Istirahat. Kendati selalu terlihat memiliki energi ekstra dan nonstop ‘beraksi’, namun si aktif ini juga punya batas mobilitas. Kendati hanya sebentar, ketika ia merasa lelah, ia akan akan meluangkan waktu sejenak untuk sekedar duduk ataupun minum untuk beristirahat.
4.Tidak membangkang. Si aktif memang umumnya lebih kritis dibanding teman-temannya, tetapi ia tidak membangkang seperti yang sering dilakukan oleh anak hiperaktif. Ketika ia mau melepas baterai dari dalam remote televisi misalnya. Bila diberikan pengertian seperti, “ Sayang, jangan dilepas ya, nanti remotenya tidak bisa dipakai dan kamu nggak bisa nonton televisi.” Ia akan mengerti dan batal melakukannya.

Nah, bila si kecil tergolong tipe ‘kelinci energizer’ alias anak aktif, dukung dan arahkan aktivitasnya sehingga bermanfaat bagi tumbuh kembangnya!

Anak Gifted

Posted in Pendidikan dan Perkembangan AUD on 26 Desember 2008 by dadan suryana

Memperjuangkan pendidikan anak-anak dengan kecerdasan istimewa (gifted children) bukanlah hal mudah. Hal ini karena:

1. Berbagai komponen baik masyarakat, orang tua, dan pihak sekolah masih tidak memahami apa yang disebut anak cerdas istimewa (gifted children)

2. Pendidikan anak cerdas istimewa (gifted children) saat ini yang dikenal di Indonesia hanyalah kelas akselerasi, padahal sementara itu pendidikan model ini secara ilmiah sudah tidak disarankan lagi, karena terbukti justru tidak memperhatikan faktor kreativitas berpikir serta perkembangan sosial emosional seorang anak cerdas istimewa.

3. Karakteristik personalitas dan pola tumbuh kembang alamiah seorang anak cerdas istimewa masih tidak dipahami secara luas, sehingga berbagai kesulitan perkembangan seorang anak gifted tidak pernah dikenal oleh pihak-pihak yang seharusnya menyantuninya, terutama pihak sekolah. Sehingga anak-anak cerdas istimewa justru tidak diterima oleh institusi pendidikan karena dianggap sebagai anak bermasalah. Sekalipun itu adalah kelas akselerasi.

4. Dengan begitu kelas akselerasi pada akhirnya sebagai kelas anak cerdas istimewa tanpa murid cerdas istimewa, umumnya berisi anak cerdas normal yang mempunyai gaya belajar yang cocok dengan program yang ditekankan, yaitu pemampatan materi. Sementara itu anak-anak cerdas istimewa adalah seorang anak yang sangat mandiri, didaktif, kreatif berpikir analisis, tidak dapat ditekan apalagi dilakukan drilling harus cepat-cepet selesai.

4. Tidak pernah disadari bahwa semakin tinggi kecerdasan seorang anak ia akan mempunyai cara berpikir (cognitive style) yang berbeda dengan anak-anak normal sehingga ia membutuhkan ruang gerak leluasa untuk mengembangkan apa yang menjadi minatnya. Ia membutuhkan pendidikan bersama teman-teman sebayanya dalam kelas-kelas sekolah normal, dengan perhatian ektra ke dua arah yaitu kecerdasannya yang istimewa dan juga berbagai kesulitan tumbuh kembangnya. Bentuk kelas seperti ini yang kemudian disebut sebagai kelas-kelas inklusi.

5 Semakin tinggi inteligensia seorang anak, minatnya menjadi semakin sempit pada bidang-bidang khusus.

Untuk lebih lanjut bagaimana teori yang mampu menjelaskan ini semua, silahkan klik TEORI GIFTEDNESS

Mainan Untuk Belajar Anak

Posted in Pendidikan dan Perkembangan AUD on 26 Desember 2008 by dadan suryana

Mainan Untuk Tumbuh Kembang Bayi

Saat berusia 1 bulan, selain bayi Anda sudah mulai belajar mengenali suara dan musik lembut ia juga mulai mengenali wajah-wajah orang yang menyayanginya, terutama wajah ibu dan ayahnya. Itu sebabnya pada usia ini American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan agar orangtua mulai memberikan mainan dengan pola warna yang sangat kontras dan terang. Mengapa? Karena warna yang sangat kontras dan terang dapat menarik perhatian bayi sehingga memudahkan bayi untuk melihatnya.

Jadi tak mengherankan jika benda yang bergerak secara perlahan dan menghasilkan suara lembut jauh lebih menarik perhatian bati dibandingkan dengan benda yang diam dan tanpa suara.

Ingin tahu lebih detil tahapan perkembangan bayi mungil Anda? Serta mainan apa yang cocok untuknya? Berikut catatannya:

Usia 3 – 8 bulan

Berikan padanya mainan yang bisa dipegang. Sebab pada usia ini pandangannya masih sangat pendek sehingga ia hanya tertarik pada sesuatu yang Anda gerakkan di garis penglihatannya. Apa saja mainan yang cocok untuknya?

1.

Kotak musik atau pemutar kaset merupakan salah satu pilihan mainan yang bisa menghiburnya.
2.

Mobil-mobilan yang mempunyai warna dan pola yang cukup kontras. Pilih mobil-mobilan yang dilengkapi dengan musik.
3.

Berikan ia cermin yang tak mudah pecah agar ia bisa mengenali bayangannya sendiri.
4.

Buku lembut dengan pola atau dekorasi yang mudah dilihat dirancang untuk bayi.
5.

Mainan lembut yang bisa berbunyi saat ditekan akan menyenangkan bayi. Mainan ini akan membantunya menjadi waspada dengan apa yang dilakukan oleh tangannya.
6.

Pilihkan mainan berwarna hitam, putih, dan merah. Agar si kecil bisa mulai belajar melihat perbedaan bentuk dan pola yang merangsang perkembangan penglihatan.

Usia 9-12 bulan

Pada usia ini biasanya bayi mulai merangkak, merayap dan merembet. Ia pun juga mulai bisa berdiri dan berjalan. Jadi, apa saja mainan yang cocok untuknya?

1.

Berikan ia mainan yang bersifat interaktif. Sebab pada usia ini mulai memahami kata-kata dan mengenali nama-nama benda yang akrab dengannya.
2.

Mainan yang didorong biasa memberi peluang bagi batita dalam berlatih kemampuan berjalannya. Pilih mainan dorong yang berat, sehingga bayi bisa bersandar dan berputar mengelilingi ruangan tanpa mudah terjatuh.

3.

Mainan menyusun balok atau lego. Meski kadang permainan ini bisa membuat bayi frustasi karena lelah tapi mainan ini bisa menjadi tantangan latihan anak untuk memecahkan masalah.
4.

Telepon mainan. Bayi gemar meniru orangtuanya. Dengan mainan ini bayi akan mencoba berkomunikasi dengan memegang telepon dan memencet angka-angka.
5.

Belikan anak buku bergambar yang menarik. Pilihkan buku bertekstur lembut dengan warna-warna menarik.
6.

Ember dan sekop serta bak pasir kecil. Permainan ini akan membuatnya sibuk dan membuatnya sangat gembira, karena aktivitas dengan permainan ini biasanya dilakukan secara outdoor.

Mainan Untuk Belajar Anak

Posted in Pendidikan dan Perkembangan AUD on 26 Desember 2008 by dadan suryana

Mainan Untuk Tumbuh Kembang Bayi

Saat berusia 1 bulan, selain bayi Anda sudah mulai belajar mengenali suara dan musik lembut ia juga mulai mengenali wajah-wajah orang yang menyayanginya, terutama wajah ibu dan ayahnya. Itu sebabnya pada usia ini American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan agar orangtua mulai memberikan mainan dengan pola warna yang sangat kontras dan terang. Mengapa? Karena warna yang sangat kontras dan terang dapat menarik perhatian bayi sehingga memudahkan bayi untuk melihatnya.

Jadi tak mengherankan jika benda yang bergerak secara perlahan dan menghasilkan suara lembut jauh lebih menarik perhatian bati dibandingkan dengan benda yang diam dan tanpa suara.

Ingin tahu lebih detil tahapan perkembangan bayi mungil Anda? Serta mainan apa yang cocok untuknya? Berikut catatannya:

Usia 3 – 8 bulan

Berikan padanya mainan yang bisa dipegang. Sebab pada usia ini pandangannya masih sangat pendek sehingga ia hanya tertarik pada sesuatu yang Anda gerakkan di garis penglihatannya. Apa saja mainan yang cocok untuknya?

1.

Kotak musik atau pemutar kaset merupakan salah satu pilihan mainan yang bisa menghiburnya.
2.

Mobil-mobilan yang mempunyai warna dan pola yang cukup kontras. Pilih mobil-mobilan yang dilengkapi dengan musik.
3.

Berikan ia cermin yang tak mudah pecah agar ia bisa mengenali bayangannya sendiri.
4.

Buku lembut dengan pola atau dekorasi yang mudah dilihat dirancang untuk bayi.
5.

Mainan lembut yang bisa berbunyi saat ditekan akan menyenangkan bayi. Mainan ini akan membantunya menjadi waspada dengan apa yang dilakukan oleh tangannya.
6.

Pilihkan mainan berwarna hitam, putih, dan merah. Agar si kecil bisa mulai belajar melihat perbedaan bentuk dan pola yang merangsang perkembangan penglihatan.

Usia 9-12 bulan

Pada usia ini biasanya bayi mulai merangkak, merayap dan merembet. Ia pun juga mulai bisa berdiri dan berjalan. Jadi, apa saja mainan yang cocok untuknya?

1.

Berikan ia mainan yang bersifat interaktif. Sebab pada usia ini mulai memahami kata-kata dan mengenali nama-nama benda yang akrab dengannya.
2.

Mainan yang didorong biasa memberi peluang bagi batita dalam berlatih kemampuan berjalannya. Pilih mainan dorong yang berat, sehingga bayi bisa bersandar dan berputar mengelilingi ruangan tanpa mudah terjatuh.

3.

Mainan menyusun balok atau lego. Meski kadang permainan ini bisa membuat bayi frustasi karena lelah tapi mainan ini bisa menjadi tantangan latihan anak untuk memecahkan masalah.
4.

Telepon mainan. Bayi gemar meniru orangtuanya. Dengan mainan ini bayi akan mencoba berkomunikasi dengan memegang telepon dan memencet angka-angka.
5.

Belikan anak buku bergambar yang menarik. Pilihkan buku bertekstur lembut dengan warna-warna menarik.
6.

Ember dan sekop serta bak pasir kecil. Permainan ini akan membuatnya sibuk dan membuatnya sangat gembira, karena aktivitas dengan permainan ini biasanya dilakukan secara outdoor.

Kakak Vs Adik

Posted in Pendidikan dan Perkembangan AUD on 26 Desember 2008 by dadan suryana

Persaingan Antara Kakak & Adik

Perselisihan atau persaingan (sibling rivalry) antara kakak dan adik pada usia prasekolah memang wajar terjadi. Tapi jika terus menerus terjadi perseliha dan persaingan, maka diperlukan campur tangan orangtua. Sebab, jika dibiarkan akan mempengaruhi kejiwaan anak-anak hingga mereka dewasa nanti.

Jadi, apa yang harus dilakukan oleh orangtua?

Perhatian harus seimbang

Sibling rivalry masih dianggap wajar apabila si anak sedang menyesuaikan diri dengan dengan suatu kondisi baru. Misalnya buah hati memiliki adik baru. Pada si kakak, rasa iri akan muncul karena semua perhatian ayan dan ibu bahkan seluruh rumah tertuju pada adik yang baru lahir. Pada kondisi ini orangtua harus memberikan penjelasan yang sesuai dengan usia anak agar ia memahami kondisi lingkungan sekitarnya.

Orangtua harus adil

Persaingan antara kakak dan adik biasanya terjadi pada anak dengan usia yang berdekatan. Pertengkaran yang terjadi bisa karena masalah sepele, misalnya berebut mainan atau makanan. Sebagai orangtua, sangat dianjurkan agar Anda memperlakukan adik dan kakak sama, tetapi tidak membandingkan atau membedakan. Siapa yang salah dia harus bersedia meminta maaf. Jika kakak dihukum, maka demikian pula dengan si adik.

Cari penyebabnya

Emosi iri harus dikendalikan, karena merupakan sikap yang tidak sehat. Sibling rivalry yang terjadi sejak usia anak-anak, jika tidak diintervensi dengan baik itu akan berlanjut sampai dewasa. Emosi iri itu sulit menyelesaikannya, karena percampuran dari marah, benci, dan cinta. Nah, di sinilah tugas orang tua bagaimana caranya agar sang anak tidak dikuasai emosi iri.

Anak Pemalu

Posted in Pendidikan dan Perkembangan AUD on 26 Desember 2008 by dadan suryana

Anakku Pemalu

Coba Anda perhatikan gerak-gerik si kecil saat berkumpul dengan kerabat. Apakah ia sering berdiam diri dan enggan bergabung dengan yang lain? Atau mungkin ia pernah bersembunyi di balik badan Anda saat dikenalkan dengan teman-teman barunya?

Jika hal ini terjadi, mungkin saja anak Anda tumbuh menjadi seorang yang pemalu.

Meskipun tidak mengkawatirkan, tapi tidak ada salahnya jika Anda mencari penanganan yang tepat agar si kecil bisa berubah dan tampil lebih percaya diri.

Sabar dan Belajar Memahaminya

Anak-anak pemalu biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa “masuk” ke lingkungan baru. Karena itu Anda harus lebih bersabar dalam menghadapinya. Jangan pernah menganggap sikap pemalunya sebagai tanda ada sesuatu yang salah. Anda bisa memulainya dengan mengajaknya bertemu dengan anak seorang kerabat. Jangan lupa dampingi dia saat berkenalan.

Berikan contoh.

Langkah simple untuk membantu si kecil mengatasi sikap pemalunya adalah memberi contoh kepadanya. Seperti yang diketahui, anak-anak kerap kali belajar dan mencontoh segala sesuatu yang dilakukan orang-orang di sekitarnya. Anda bisa memulainya dengan menyapa orang lain terlebih dahulu, sering melontarkan pujian, murah senyum dan ramah terhadap setiap orang.

Hindari Memberi Label

Jangan memberi label “anak pemalu” kepada si kecil karena akan memperparah sikapnya tersebut. Meskipun masih kecil, ia bisa memahami perkataan orang tuanya dan orang-orang di sekitarnya. Jangan pernah pula menyalahkan dan mempermalukannya di depan umum saat Ia melakukan kesalahan. Ini akan meruntuhkan rasa percaya dirinya.

Bantu untuk Memperlihatkan Kelebihannya.

Rasa percaya diri bisa menjadi salah satu pemicu anak Anda menjadi seorang pemalu. Bantu ia untuk mengenali dan menunjukan kelebihan yang dimilikinya. Bila si kecil mulai pandai mewarnai gambar, ajak ia untuk menunjukan hasil karyanya kepada orang-orang terdekat.

Beri Pujian

Jangan pernah lupa untuk memberinya pujian setiap kali Ia berhasil mengatasi rasa malunya. Tunjukan rasa bangga Anda saat Ia mau bergabung dan bermain bersama teman-temannya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.